Psikologi Media Bantu Terciptanya Kritik Film yang Jitu

Editor: Mahadeva WS

Niniek L Karim (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Niniek L Karim menyebut kritik film adalah upaya untuk membedah film secara bertanggungjawab. Kritik disampaikan secara ilmiah dan mendalam.

Peraih Piala Citra sebagai pemeran pembantu terbaik dalam film Ibunda tersebut menilai, perlu pemahaman psikologi untuk mengkritisi sebuah film. “Kritik film itu membedah film secara bertanggung jawab, ilmiah dan mendalam. Pemahaman psikologi sangat membantu usaha mengkritisi film secara bertanggung jawab,“ kata wanita berdarah Minang tersebut dalam acara workshop kritik film, Kamis (10/5/2018).

Perempuan kelahiran Mataram, NTB 14 Januari 1949 itu menyebut, kritik film menjadi sebuah masukan bagi penonton agar memperoleh pemahaman terhadap film. Sementara bagi para pembuat film, kritik dapat menjadi penjelasan apa yang ditangkap oleh penonton.

Menurut Niniek, psikologi media merupakan cabang dari psikologi yang fokus pada hubungan antara media dan perilaku manusia. Baik manusia secara individu ataupun masyarakat sebagai satu kesatuan. “Psikologi media adalah, studi mengenai manusia berinteraksi dengan media dan bagaimana interaksi sesama manusia yang dipengaruhi oleh media,” bebernya.

Psikologi media membantu memahami tentang peran, dampak media terhadap perilaku individu maupun kelompok, memahami media sebagai sumber informasi, sumber  pengalaman dan pembelajaran, memahami dan dapat melakukan penelitian tentang media.

Dengan memahami psikologi media, bahkan bila perlu cabang psikologi lainnya, pesan yang ingin disampaikan oleh sebuah kritik film akan lebih tepat, tajam dan jitu. “Kritik film tentu punya pengaruh terhadap masyarakat. Apapun tulisan kita memang harus punya makna dalam menyemai insting keindahan, “ pungkasnya.

Lihat juga...