Prosesi Siraman Sekar Rukmana Putri Mbak Tutut
Editor: Satmoko
JAKARTA – Prosesi pernikahan putri Indra Rukmana dan Siti Hardiyanti Rukmana, Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana dan Ajie Sulistiyo Dwi Putra Maryunis, putra sulung Yulis Maryulis Martu dan Mimie Suharmiyati, dilakukan dengan adat Jawa.
Mulai Jumat Wage (4/5/2018) telah dilakukan pengajian dan upacara selamatan pasang tarub, tuwuhan dan srono bucalan.
Sabtu Kliwon (5/5/2018) berlanjut proses sungkeman dan siraman. Dengan disaksikan para pinisepuh, keluarga, dan para tamu, Sekar Calon Pengantin Putri diantar Ibu Esye Kowara dan Ibu Siti Hediati Soeharto atau Mbak Titiek Soeharto untuk menghaturkan sembah sungkem kepada ayahanda Indra Rukmana dan Ibunda Hj. Siti Hardiyanti Rukmana.
“Papa dan mama yang Sekar cintai dan hormati. Sekar mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah Sekar lakukan selama ini. Baik yang disengaja maupun yang tak disengaja,” ungkap Sekar terlihat matanya berkaca-kaca.
Sekar pun memohon izin untuk mencuci telapak kaki orang tuanya. Sebagai ungkapan rasa bakti dan terima kasih atas segala kasih serta pengorbanan kedua orang tua tercintanya.
Lalu, Sekar pun memohon doa restu dan izin orang tuanya untuk menikah dengan pria pujaannya.
“Sekar mohon doa restu dan izin mama-papa untuk menikah dengan Mas Ajie Sulistyo Dwi Putra. Semoga niat suci Sekar ini, mendapatkan lindungan, berkah dan ridho dari Allah SWT,” ujarnya lirih.
Sekar pun memohon doa agar senantiasa bisa membentuk rumah tangga yang sakinah, mawadah warohmah serta mendapatkan keturunan yang saleh dan salehah.
Indra Rukmana, sang ayah dengan lirih menjawab permohonan maaf putri bungsunya itu.

“Sekar sayang, mama dan papa memaafkan segala kesalahan dan kekhilafanmu. Semoga Allah SWT pun memaafkan segala kesalahan kita,” ucap sang ayah.
Sebagai orang tua, Indra meyakini anak-anak yang dilahirkan merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dipelihara, dikasihi dan dididik.
Ditegaskan Indra, bahwa kasih sayang mereka melebihi kasih sayang terhadap dirinya sendiri.
Dengan suara lirih, Indra kembali menuturkan, bahwa Sekar putri bungsunya merupakan amanah dari Allah SWT. Maka, sekuat kemampuan telah ditunaikan membesarkan dengan kasih sayang. Semoga Allah SWT tidak menilainya kurang.
“Mama dan papa dengan penuh keikhlasan, merestui perkawinan dengan ananda Ajie Sulistyo Dwi Putra,” tegas Indra.
Selanjutnya, Sekar memasuki pintu gerbang pernikahan. Amanah Allah SWT yang papa-mama pikul selama ini, segera akan beralih kepada Sekar bersama suami.

“Mama dan papa mendoakan Sekar dan Ajie menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah dan diberikan keturunan yang saleh serta salehah. Menjadi penyejuk mata serta pendingin hati. Amin,” ungkap Indra.
Sekar pun mencuci kaki kedua orang tuanya. Didahului mencuci kaki Bapak Indra Rukmana. Dengan melepas sandal papanya, Sekar mengambil handuk lalu ditaruh di pangkuan untuk alas mencuci kaki papa tercintanya.
Setelah dicuci dan dilap dengan handuk, lalu disemprot minyak wangi. Selanjutnya dicium kakinya dan diletakkan di depan kursi. Sekar pun sungkem dengan mencium lutut papanya, Indra Rukmana.
Sekar kemudian bergeser kepada ibunda, Hj. Siti Hardiyanti Rukmana. Hal yang sama dilakukan Sekar dengan penuh kasih sayang. Suasana sangat haru mana kala mereka saling peluk. Terlihat mata Ibu Siti Hardiyanti Rukmana berlinang air mata, begitu pula Sekar.
Berlanjut proses siraman. Dengan mengenakan untaian melati, Sekar terlihat anggun dan siap menjalani proses siraman.
Dipilih bunga melati yang harum dengan harapan agar Sekar ke depan mampu menjaga keharuman nama keluarga dengan suka cita karena izin Allah SWT.
Siraman pertama dari ayahanda tercinta Indra Rukmana yang bermakna membesarkan dan memberikan kasih sayang tanpa batas kepada Sekar yang saat lahir bagaikan kertas putih. Maka, orang tualah yang memberikan corak pada anaknya akan menjadi apa kemudian.
Siraman kedua dimohonkan dari Ibu Mufidah Jusuf Kalla. Berlanjut oleh Ibu Moeryati Soedibyo, Opa Jufri, Ibu Bress Soehardjo, Moersiati Harsono, Ibu Ning Rusman Laman, Esye Kowara dan Ibu Siti Hediati Soeharto.
Adapun siraman terakhir oleh ibunda tercinta, Siti Hardiyanti Rukmana yaitu menggosok badan Sekar dan menyiraminya dengan air kembang setaman.
Setalah itu, Pak Indra Rukmana dan Ibu Siti Hardiyanti Rukmana menuangkan air kendi untuk Sekar. Menuangkan untuk “wudhu” putrinya. Kemudian, ibunda tercinta memecah kendi.
“Bismillahirrahmaanirrohiim, niat ingsun ora mecah kendi, nanging mecah pamore anakku Sekar,” katanya.
Prosesi selanjutnya adalah potong rikmo (rambut) Sekar oleh sang ayah, Indra Rukmana.
Dengan mengucap Bismiillahirrahmaanirrohiim, Indra pun berniat memotong rambut putri tercintanya Sekar.
“Saya berniat memotong rambut anak saya Sekar, untuk menghilangkan segala halangan dan gangguan yang berada pada diri anak saya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengabulkan,” ucap Indra.
Sekar pun diapit oleh orangtuanya menuju kamar pengantin.
Prosesi selanjutnya, adalah kerik yakni penyiapan srono paes pengantin putri. Kemudian disiapkan pula tempat untuk menanam potongan rikmo (rambut) Sekar. Mereka pun menanam potongan rambut Sekar di tempat yang telah ditentukan.
Berlanjut ke prosesi dodol dawet atau berjualan dawet. Dalam prosesi ini, Indra Rukmana dan Siti Hardiyanti Rukmana berperan menjadi penjual dawet.
Dengan mengenakan selendang, Ibu Siti Hardiyanti Rukmana dipayungi oleh Pak Indra.
Dalam prosesi ini tamu diminta membeli dawet dengan alat pembayaran kereweng atau pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar.
Dodol dawet dilakukan, dengan harapan agar tamu undangan yang hadir memberikan restu kepada calon pengantin. Kemruwet koyo dawet, nggerombol koyo cendol. Artinya, yang hadir memenuhi undangan melimpah, agar berkah yang diterima oleh pengantin juga berlimpah.
Setelah prosesi dodol dawet ada pula prosesi dulangan pungkasan. Dalam prosesi ini Sekar disuapi untuk terakhir kali oleh Indra Rukmana dan Siti Hardiyanti Rukmana.
Dulangan pungkasan dimaksudkan setelah pernikahan orang tua mempelai perempuan tidak lagi sebagai wali, namun perwalian berada di pundak suami.