YOGYAKARTA – Meski saat ini telah memasuki musim kemarau, namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta, menyatakan lima kabupaten/kota di Yogyakarta masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas rendah.
“Mei merupakan awal musim kemarau, sehingga tidak serta-merta kemaraunya kuat, tetapi bertahap,” kata Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta, Djoko Budiono, di Yogyakarta, Selasa (29/5/2018).
Menurut Djoko, meski masih berpotensi turun hujan, curah hujan juga akan mengalami penurunan secara bertahap. Selama Mei, curah hujan diperkirakan masih di kisaran 100-150 mm per bulan, Juni 75-100 mm per bulan, Juli sekitar 50-75 mm per bulan, dan Agustus diprediksi merupakan puncak musim kemarau, dengan jumlah curah hujan mencapai 0-50 mm per bulan.
Ia mengatakan, meski musim kemarau bukan berarti sama sekali tidak ada hujan. Hujan masih akan terjadi, meski dengan kategori rendah.
“Hujan bulanan akan sedikit demi sedikit berkurang tiap bulannya,” kata dia.
Kabupaten Sleman, menurut Djoko, merupakan daerah yang curah hujannya hingga saat ini paling basah dibandingkan daerah lainnya. “Karena memang Sleman termasuk yang paling terakhir memasuki musim kemarau,” kata dia.
Berdasarkan urutannya, menurut dia, kemarau dimulai dari bagian timur-selatan Yogyakarta dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian, selanjutnya tengah-barat dan terakhir di utara Yogyakarta.
Paling awal, terutama Gunung Kidul bagian timur-selatan, kecuali Kecamatan Gedangsari dan Ngawen bagian utara.
Selanjutnya, sebagian wilayah Kabupaten Kulon Progo meliputi Temon bagian timur, Kokap bagian timur, Wates, Pengasih, Panjatan, Lendah, Galur, Sentolo, serta Nanggulan.
Ada pun paling akhir kemarau terjadi di Kabupaten Sleman, khususnya Pakem bagian utara atau kawasan Gunung Merapi. (Ant)