Mantan Menteri Spanyol Ditahan Atas Tuduhan Korupsi
MADRID — Mantan menteri tenaga kerja dan jaminan sosial Spanyol, Eduardo Zaplana, ditahan pada Selasa oleh Garda Sipil Spanyol atas tuduhan penyuapan dan penyelewenang dana negara, kata sumber-sumber di kepolisian kepada Xinhua.
Zaplana, 62, merupakan anggota sayap kanan pemerintahan Partai Rakyat (PP) pimpinan Jose Maria Aznar antara 2002 dan 2004 serta merupakan juru bicara PP pada Kongres Spanyol antara 2004 dan 2008.
Sebelum itu, ia menjabat sebagai Wali Kota Benidorm di Spanyol timur dari 1991 hingga 1994 dan Kepala Komunitas Otonomi Valencia pada 1995-2002.
Zaplana ditangkap di kediamannya di Valencia pada Selasa subuh. Petugas juga menahan lima orang lainnya dalam operasi tersebut.
Zaplana dituduh membawa uang hasil suap ke Spanyol.
Ia mengundurkan diri dari politik aktif pada 2008 untuk menjalankan suatu jabatan di perusahaan telekomunikasi Telefonica.
Sebagai reaksi atas penahanan Zaplana, Telefonica mengumumkan bahwa pihaknya “segera” memutuskan hubungan dengan Zaplana sementara PP membenarkan bahwa partai itu menangguhkan keanggotaannya.
Penahanan Zaplana merupakan pukulan berikutnya bagi PP, yang telah beberapa tahun berlumuran skandal korupsi, termasuk kasus-kasus “uang tunai untuk pertolongan” di wilayah Madrid dan Valencia.
Zaplana bukan merupakan anggota pertama kabinet Aznar yang ditahan.
Mantan wakil perdana menteri dan menteri ekonomi pada kabinet Aznar, Rodrigo Rato, saat ini menjalani hukuman 4,5 tahun penjara karena korupsi. Mantan Perdana Menteri Mariano Rajoy tahun lalu menjadi perdana menteri pertama dalam sejarah Spanyol yang muncul di persidangan setelah diminta sebagai saksi atas kasus “Gurtel”, yang menyidangkan skandal pemberian uang tunai sebagai imbalan atas bantuan.
Kantor cabang PP di Madrid juga dilanda masalah korupsi. Mantan kepala wilayah, Ignacio Gonzalez, ditahan atas tuduhan korupsi beserta mantan wakil kepala wilayah, Francisco Granados.
Pengganti Gonzalez di wilayah Madrid, Cristina Cifuentes, pada akhir April terpaksa harus mundur dari jabatannya setelah muncul skandal bahwa ia mendapatkan gelar “Masters Degree” tanpa melaksanakan tugas atau menjalani ujian. Cristina juga terkena skandal video, yang memperlihatkan ia mencuri dua toples krim wajah.[ant]