Kritikus Sayangkan Dunia Film Tanah Air Biasa Saja

Editor: Koko Triarko

Marselli Sumarno (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Marselli Sumarno, Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sutradara sekaligus penulis kritik film, menyayangkan dunia perfilman Tanah Air yang biasa-biasa saja. Padahal, saat ini bangsa dan negara dikelilingi oleh gelombang lautan masalah, mulai dari darurat narkoba, mega korupsi dan sebagainya.

Hal demikian disampaikannya saat menjadi pembicara membahas peran institusi pendidikan dalam membangun kritik film dalam acara workshop kritik film, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (9/5/2018).

Lelaki kelahiran Solo, Jawa Tengah, 10 Oktober 1956, itu menyayangkan, bahwa negara dikelilingi gelombang lautan masalah yang begitu sangat besar, tapi rasanya kecil hanya riak-riak saja.

“Padahal, ada kasus mega korupsi yang sangat besar, darurat narkoba, tapi dunia perfilman kita biasa-biasa saja, tidak menggarap tema-tema besar tersebut,“ ungkapnya.

Sebagai dosen, Marsell mengaku mempunyai banyak referensi buku tentang film yang menjelaskan, bahwa film sebenarnya ada dua madzab teori, yaitu bagaimana menangkap realitas dengan cara formalisme dan realisme.

“Kalau formalisme, kita dapatkan pada Eisenstein yaitu mengenai montase intelektual dan Aruheim, yaitu mengenai ekspresionisme. Sedangkan, kalau realisme, kita dapatkan pada Munsterberg, yaitu menonton sebagai proses aktif, Bazin mengenai realisme dan kepengarangan, Kracauer mengenai pembebasan fisik, Wollen yaitu kajian film tentang tanda-tanda, dan lain-lain,“ bebernya.

Sejarah teori film, kata Marselli, pada dasarnya sejarah pencarian makna, baik mazhab formalisme maupun realisme. “Penulisan kritik dan kajian film, akan nampak seperti piramida, yang mengeksplorasi asumsi-asumsi, dalil atau hukum, hingga pada puncak seni film secara teks dan medium film secara konteks,“ paparnya.

Marselli pun memuji Pak Harto, Presiden kedua RI, yang dianggapnya sadar teritorial Indonesia. “Beliau mencetuskan satelit Palapa yang diluncurkan pada 8 Juli 1976, sehingga dapat membantu siaran berbagai stasiun pemancar TVRI di seluruh pelosok Indonesia,“ tegasnya.

Nama satelit ini diambil dari “Sumpah Palapa”, yang pernah digelorakan oleh Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada 1334.

“Kalau sekarang berbagai stasiun pemancar TVRI di seluruh pelosok Indonesia dimanfaatkan dan benar-benar dioptimalkan, tentu dari segi penyiaran akan mampu mengalahkan stasiun TV swasta yang sekarang begitu sangat banyak, “ tandasnya.

Lihat juga...