Sektor Kesehatan Indikator DaerahTertinggal
Editor: Koko Triarko
PASAMAN BARAT – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan pembangunan sektor kesehatan merupakan kegiatan strategis untuk menentukan daerah tertinggal. Dari 27 indikator pembangunan daerah tertinggal, ada 8 indikator yang berkaitan dengan sektor pembangunan kesehatan.
Ia menyebutkan, ada tiga daerah di Sumbar yang masih tergolong tertinggal, yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai, Solok Selatan, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Seperti halnya untuk Kabupaten Pasaman Barat, diperkirakan dapat keluar dari kategori daerah tertinggal pada evaluasi tahun 2019. Namun untuk mencapainya, perlu memfokuskan untuk membangun kesehatan.
Nasrul menilai, jika dilihat dinamika penyelenggaraan pemerintahan Pasaman Barat, penyelenggaraan pemerintahannya merupakan daerah yang cepat merespon berbagai upaya pembangunan, mengeluarkan Pasaman Barat keluar dari kategori daerah tertinggal.
“Saat ini telah ada sebuah rumah sakit. Tentunya akan membantu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Inilah saya harapkan, supaya tidak ada lagi persoalan jarak yang jauh untuk menjangkau rumah sakit,” katanya, saat meresmikan gedung Safa Marwa RSI Ibnu Sina, Jumat (27/4/2018).
Gedung Safa Marwa RSI Ibnu Sina yang telah selesai dibangun tersebut cukup bagus. Apalagi memiliki gedung berlantai empat. Sehingga mampu menambah kekuatan peningkatan pelayanan kesehatan di Pasaman Barat.
Nasrul mengatakan, dengan adanya infrastruktur rumah sakit yang demikian, menjadikan satu-satunya rumah sakit Islam Ibnu Sina, dengan wilayah yang cukup besar di wilayah Pasaman Barat.
“Karena selain lokasi mudah dijangkau masyarakat, juga fasilitas pelayanan telah lebih baik dari sebelumnya,” ucapnya.
Selain itu, Pemerintah Pasaman Barat sendiri juga akan membangun Rumah Sakit Umum Daerah dan telah menyediakan APBD Rp124 miliar tahun ini.
“Tentunya hal tersebut tidaklah menjadi persaingan daerah, karena pelayanan kesehatan ditentukan oleh sistem pelayanan,” ujarnya.
Untuk itu, Nasrul berharap, agar pihak rumah sakit memberi pelayanan sebaik mungkin kepada masyarakat. Ia berharap, RSI Ibnu Sina Simpang Empat Pasaman Barat mampu menjadi yang terbaik di Sumatera Barat.
Sementara itu, Bupati Pasaman Barat, Syahiran, menganjurkan kepada masyarakat agar memanfaatkan rumah sakit yang aksesnya lebih dekat. “Jika ada Rumah Sakit yang dekat kenapa cari yang jauh? Selain biaya kost yang besar juga bisa bikin repot,” tegasnya.
Ketua Yayasan RSI Ibnu Sina, Zainul Daulay, juga menjelaskan pembangunan Gedung Safa dan Marwa telah dimulai sejak 2014. Ada penambahan 64 kamar hingga menjadi total kamar 110 ditambah dengan gedung yang lama.
Pembangunan Gedung Safa dan Marwa yang empat lantai ini baru ada di Pasaman Barat dari semua RSI Ibnu Sina di Sumbar.
“Kita menyadari, Pasaman Barat dan Pasaman merupakan daerah cukup jauh dari ibukota provinsi dan memiliki perkembangan dan pertumbuhan sosial ekonomi yang sangat cepat, pelayanan merupakan salah satu hal terpenting bagi masyarakat,” sebutnya.
Untuk itu, katanya, RSI Ibnu Sina berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi pasiennya, semoga semua ini menjadi pengabdian dalam menyejahterakan masyarakat di Sumbar, khususnya Pasaman Barat dan Pasaman.