Konflik Buruh Migran, Filipina Minta Maaf Kepada Kuwait
MANILA – Filipina secara resmi meminta maaf kepada Kuwait berkaitan dengan upaya penyelamatan sejumlah pekerja migrant di kantor Kedutaan Filipina yang berada di Kuwait. Pernyataan resmi tersebut dikeluarkan Selasa (24/4/2018).
Aksi yang disebut Filipina sebagai penyelamatan tersebut, dinilai Kuwait sebagai pelanggaran kedaulatan. Kuwait memprotes aksi para warga Filipina yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga tersebut, Protes dilakukan dengan memanggil duta besar Filipina untuk memberikan penjelasan dan menangkap dua petugas kedutaan, yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Menteri Luar Negeri Filipina Alan Peter Cayetano menyatakan, Kuwait menerima penjelasan Filipina setelah duta besar negara Arab itu bertemu dengan Presiden Rodrigo Duterte pada Senin (23/4/2018) di kota selatan, Davao. Keduanya mengadakan pembicaraan dengan Cayetano pada Selasa (24/4/2018) di Manila.
“Kami mengirim pesan ke mitra saya dan kami meminta maaf atas kejadian tertentu, yang dilihat Kuwait sebagai pelanggaran kedaulatan mereka,” kata Cayetano, Selasa (24/4/2018).
Dia menyatakan, langkah disetujui oleh pejabat Kuwait guna menghindari kejadian seperti itu terulang. Kedua negara itu sedang membuat perjanjian untuk melindungi pekerja rantau setelah Filipina pada Januari melarang pengiriman pekerja kontrak ke Kuwait. Pelarangan dilakukan atas laporan penyalahgunaan oleh majikan, yang mendorong banyak orang bunuh diri. (Baca : https://www.cendananews.com/2018/02/kuwait-kecam-seruan-evakuasi-pekerja-filipina.html).
Pelarangan itu diperintahkan setelah seorang pekerja rantau Filipina ditemukan tewas di lemari es di Kuwait. Kejadian terkini dalam yang disebut Manila pola pelecehan di negara Teluk tersebut.
Pekerja di banyak negara Teluk bekerja di bawah tata cara, yang memberi majikan hak menyimpan paspor mereka dan memiliki kendali penuh atas masa tinggal mereka. Kelompok hak asasi manusia mengatakan tata kafala itu, seperti yang dikenal, membuat jutaan pekerja di wilayah itu rentan untuk dimanfaatkan.
Cayetano menyatakan kedutaan itu terpaksa membantu pekerja asal Filipina, yang meminta tolong untuk meninggalkan majikan mereka karena beberapa masalah yang disebut bagian dari hidup dan mati. Kondisi tersebutlah yang akhirnya upaya dilakukan tanpa menunggu pihak berwenang setempat untuk bertindak. “Kami menghormati kedaulatan dan hukum Kuwait, tapi kesejahteraan pekerja Filipina juga sangat penting,” katanya.
Pembantu rumah tangga Filipina di Kuwait jumlahnya mencapai lebih dari 65 persen dari setidaknya 260.000 orang Filipina yang berada di Kuwait. Terdapat 600 pekerja di rumah singgah kelolaan kedutaan di Kuwait dengan sekitar 120 lagi minta diselamatkan dari majikan mereka karena khawatir akan keadaan kerja, pembayaran, dan penganiayaan. (Ant)