IDEAS: Kualitas Konsumsi Makanan Berdampak pada Kesejahteraan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono mengatakan, kesenjangan ekonomi yang berdampak kepada kesehatan cenderung terjadi secara lintas generasi.

Yakni, anak dari orang tua yang berada akan mendapat kesehatan dan pendidikan yang kualitasnya lebih baik. Ini menandakan bahwa kekayaan yang diwariskan berkontribusi signifikan pada kekayaan yang dimiliki kelompok kaya.

“Mereka yang terlahir dari keluarga kaya, relatif tingkat kesehatan dan pendidikan juga baik begitu juga ekonominya lebih mapan,” ujar Yusuf pada diskusi “Mimpi Jaminan Kesehatan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” di Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Sebaliknya, lanjut dia, keluarga miskin cenderung menghasilkan keluarga yang lebih sama dengan orang tuanya.

Ini ada permasalahan bahwa kesehatan dalam konteks ini adalah sarang kemiskinan. Karena ketika orang tuanya miskin, kemudian tingkat kesehatannya juga rendah maka kemampuan ekonominya juga terbelenggu.

Menurutnya, pendapatan atau kemapanan ekonomi membuat kesehatan seseorang semakin baik. Ketika masyarakat tidak memiliki kemampuan konsumsi makanan, ini menjadi masalah besar bagi kelangsungan hidup dalam wujudkan kesejahteraan.

“Jadi, masalah kesehatan dapat ditelusuri dari kesenjangan dalam konsumsi makanan,” ujar Yusuf.

Misalnya, sebut dia, konsumsi makanan berkualitas dengan gizi tinggi berperan dalam pertumbuhan dan kesehatan. Daging adalah sumber protein terbaik, sedangkan telur dan susu adalah sumber nutrisi.

Sehingga tak dipungkiri bahwa kesenjangan dalam konsumsi makanan berimplikasi pada buruknya kualitas asupan gizi. Yang menurut Yusuf, dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak secara permanen.

Sehingga tegas dia, perbedaan tingkat pendapatan terlihat jelas menghasilkan kesenjangan konsumsi. Secara ironis pula masih terjadi akibat tingginya harga-harga makanan dan rendahnya diverisifikasi pangan.

Lihat juga...