31 Tewas Akibat Bom Bunuh Diri di Afghanistan
KABUL – Bom bunuh diri meledak di Kantor Pendaftaran Pemilihan Umum di ibukota Afghanistan, Kabul, Minggu (22/4/2018). Pejabat setempat menyebut, ledakan tersebut menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai lebih dari 50 orang lainnya.
Kelompok IS mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap serangan tersebut. Kantor tersebut berperan penting dalam upaya membangun kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden Ashraf Ghani, yang mendapatkan dukungan dari negara Barat. Ghani berjanji menggelar pemilihan anggota parlemen pada tahun ini.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Najib Danesh mengatakan, pelaku dilaporkan beraksi dengan berjalan kaki menuju tempat kejadian ledakan. Di lokasi sedang dilakukan pembagian kartu tanda pengenal sebagai bagian dari pendaftaran pemilih oleh petugas yang berwenang. Kartu tersebut menjadi sarana untuk memberikan suara pada pemilihan umum yang akan digelar Oktober mendatang.
Sementara itu juru bicara Kementerian Kesehatan mengatakan, sedikitnya 31 orang dipastikan tewas dan 54 terluka akibat ledakan tersebut. Bom itu juga menghancurkan sejumlah mobil dan memecahkan kaca bangunan di dekatnya. Ledakan bom bunuh diri tersebut menjadi serangan paling besar di Kabul sejak 100 orang lebih tewas pada Januari lalu akibat bom yang disembunyikan di dalam sebuah mobil ambulan.
Setelah beberapa pekan tenang, ledakan itu terjadi di Dasht-e Barchi, sebuah wilayah di sebelah barat Kabul yang dihuni oleh kelompok minoritas Syiah Hazara, yang sering kali menjadi korban serangan IS. “Ada banyak perempuan, anak, dan semua orang tengah datang untuk mendapatkan kartu pengenal,” kata seorang saksi bernama Bashir Ahmad yang berada di lokasi kejadi.
Sejumlah kantor pendaftaran pemilih telah didirikan di berbagai wilayah di Afghanistan menjelang pemilu parlemen dan dewan daerah yang akan digelar Oktober mendatang. Banyak pihak khawatir akan keamanan mengingat gelombang serangan dari kelompok seperti ISIS dan Taliban.
Presiden Ghani banyak mendapat tekanan dari dunia internasional untuk memastikan pemilihan umum parlemen tetap digelar pada tahun ini, karena pemilihan presiden akan digelar pada 2019 mendatang. “Mereka harus menjaga negara ini tetap aman, jika tidak, maka orang lain harus menggantikan,” kata salah satu korban ledakan Sajeda yang mengalami luka akibat ledakan.
Sajeda berada di lokasi ledakan bersama tiga anggota keluarganya saat mengantre untuk mendapatkan kartu pengenal. Pendaftaran pemilih dimulai pada bulan ini, namun sudah terjadi sejumlah serangan yang diduga bertujuan untuk mengganggu persiapan pemilihan umum.
Pada hari sama, bom jalanan meledak di dekat tempat pendaftaran pemilih di kota Pul-I Khumri dan menewaskan enam orang. Seluruh korban adalah satu bagian dari sebuah keluarga dan melukai tiga orang lainnya. Mereka tengah melewati jalan tersebut dan tidak ada tanda hubungan serangan di Kabul dengan Pul-I Khumri.
Pemilihan anggota parlemen mengharuskan jutaan orang mendaftarkan diri untuk mendapatkan kartu pengenal nasional. Upaya itu harus selesai sebelum musim dingin dan jika tidak, maka pemilihan umum harus ditunda. (Ant)