Satya Dharma, Vihara yang Banyak Dikunjungi Turis

Editor: Mahadeva WS

DENPASAR – Vihara Satya Dharma adalah kelenteng terbesar yang ada di Kota Denpasar. Letaknya yang strategis di jalan raya pelabuhan Benoa atau diantara kota Denpasar dengan Wilayah Nusa Dua Badung menjadikan Vihara Satya Dharma seolah menjadi obyek wisata religi.

Banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara sering berkunjung meski dihari-hari biasa. Bangunan Vihara yang sangat megah di dukung luas bangunan yang  mencapai ratusan meter. Sangat mendukung aktivitas wisata religi tersebut.

Di Vihara Satya Dharma, Dewa atau Singbing utama yang dipuja adalah Nezha. Sementara disisi kanan luar Vihara berdiri kokoh patung Dewi Kwan Im yang dikenal sebagai sosok dewi cinta kasih sayang yang selalu dipuja oleh umat Budha.

Konon sejarahnya, Dewi Kwam Im merupakan Bodhisattva atau calon Budha yakni manusia yang hampir mencapai kesucian dan kesempurnaan. Bagian lain yang juga menarik wisatawan adalah bangunan altar untuk para Singbing yang berhubungan dengan keselamatan perjalanan, pelayaran, dan perdagangan.

Salah seorang pengurus Vihara Satya Dharma Wayan Suktrianti menjelaskan, Vihara tersebut dibangun pada 2005 dan diresmikan sekitar awal tahun 2012. Sebelumnya Vihara ini berlokasi di salah satu sudut kota Denpasar tepatnya di jalan Palapa Sesetan dengan bangunan tidak terlalu besar.

Dalam perkembangannya, perpindahan ke lokasi baru dilakukan karena para pengurus kelenteng yang kebanyakan mempunyai bisnis dan bekerja di komplek pelabuhan Benoa ingin membuat Vihara baru.

“Dipilihlah di lokasi ini karena selain tempatnya strategis juga sesuai dengan tujuan. Tujuannya untuk memfasilitasi jemaat yang kerjaannya di kawasan pelabuhan Benoa. Kebanyakan dulu jemaat-nya Cina Riau dan Bangka,” terang wanita yang akrab disapa Yanti tersebut.

Selain bangunannya yang besar, keunikan dari kelenteng tersebut adalah keberadaan arsitektur yang layaknya kelenteng di negeri asalnya Cina. Ornamen serta lainnya menambah daya tarik bagi siapa saja yang melihat serta mengunjungi Vihara Satya Dharma.

Suasana sembahyang jemaat konghucu saat memperingati tahun baru imleks di Vihara Satya Dharma-Foto:Sultan Anshori.

Pengunjung yang datang tidak hanya sekedar mereka yang mau beribadah. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk sekedar berwisata dan sebatas ber-Swa foto. “Pas hari imleks seperti pasti ramai. Dihari biasa juga ada aja para wisatawan yang datang,” tandas Yanti.

Diperayaan hari raya imleks 2569 kali ini, jamaat yang datang tidak hanya dari Denpasar. Jamaat Konghucu dari berbagai daerah di Indonesia dari daerah lain Hariyanto yang datang dari Palembang Sumatera ikut meraimaikan Vihara Satya Dharma.

Hariyanto mengaku baru pertama kali ini merayakan imleks di Pulau Dewata. Dan suasana yang diperolehnya jelas berbeda dengan di daerah asalnya. Menurutnya merayakan imleks di Bali sangat menyenangkan karena benar-benar merasakan toleransi yang sanggat tinggi.

“Di Bali ternyata bukan cuman warga tionghua yang ibadah di Vihara, melainkan orang bali yang bukan orang Konghucu juga ikut ibadah. Saya sangat senang sekali dan terharu,” tandasnya.

Pengunjung lainnya, Susiana yang mengaku datang dari Banyuwangi, menyebut tidak merasa canggung untuk masuk dan mengunjungi Vihara Satya Dharma meski sebagai seorang muslim. Datang bersama dengan keluarga, Susiana selain berwisata dengan berswa foto juga ingin memberikan penghormatan kepada warga yang merayakan.

“Sengaja saya datang kesini mas sekalian liburan dan mengingatkan saya saat masih bekerja di negara Taiwan selama sembilan tahun lamanya. Disana kan mayoritas penganut Konghucu jadi bagi saya ini sudah biasa,” tandas wanita berkerudung tersebut.

Lihat juga...