Harga Jual Jagung Petani Gunungkidul Turun
Editor: Mahadeva WS
YOGYAKARTA – Harga jual jagung dihasilkan petani di Kabupaten Gunungkidul, masih rendah. Kondisi tersebut dipengaruhi menurunnya kualitas jagung yang dihasilkan para petani saat ini.
Penurunan kualitas tersebut dimungkinkan karena, kualitas benih yang ditanam para petani tidak bagus. Pengepul jagung asal dusun Mojosari, Jetis, Saptosari, Gunungkidul, Suhar menyebut, Dirinya berani membeli jagung yang dihasilkan petani seharga Rp3.000, per kilogram.
Nilai jual jagung tersebut menurun karena di panen sebelumnya harga jagung bisa mencapai antara Rp3.500 hingga Rp4.000 perkilogramnya. “Harga Rp3.000 perkilo itu merupakan harga standar. Tapi memang dibandingkan sebelumnya agak menurun. Karena memang kualitas jagung yang dihasilkan petani sekarang ini kurang bagus,” ungap Suhar, Senin (19/2/2018).
Dari sisi fisik, biji jagung yang dipanen petani Gunungkidul lebih kecil dari biasanya. Sementara hasil yang didapatkan petani hanya satu bonggol di setiap batang tanaman jagung. Beda dengan panenan sebelumnya yang mampu menghasilkan dua bonggol jagung di setiap batang.
Kondisi tersebut, selain dipengaruhi oleh cuaca, dimungkinkan karena kualitas biji jagung yang ditanam petani untuk musim kali ini memang kurang bagus. “Meski yang ditanam jagung bisi dua, namun yang tumbuh hanya satu bonggol saja. Selain itu biji jagung juga kecil-kecil. Untuk musim kali ini rata-rata hanya bisa menghasilkan 75 persen saja,” tandasnya.
Selain jagung, penurunan harga jual komoditas pertanian di Gunungkidul juga terjadi pada kacang tanah. Harga jual kacang tanah saat ini diketahui hanya mencapai Rp13.000 perkilogram untuk kacang glondongan atau kacang masih dengan kulit. Sementara untuk kacang kupasan harga jualnya Rp25.000 perkilogram.
“Musim hujan ini harga jagung dan kacang ambleg, tidak bisa stabil. Kita sebagai pengepul juga jadi kesulitan menetapkan harga. Kalau misal berani beli dari petani dengan harga standar, tapi ternyata harga jual turun, kita yang rugi,” tandasnya.
Dengan kondisi tersebut, diharapkan pemerintah dapat menyerap komoditas hasil pertanian para petani dengan harga stabil. Terlebih jagung maupun kacang tanah merupakan komoditas utama yang dihasilkan para petani asal Gunungkidul yang menerapkan sistim tanam campursari.