Bhinneka Ruang Kita

OLEH JOKO SANTOSO

Joko Santoso. Foto: Istimewa

Historiografi peradaban kita, hingga detik ini, hampir tidak bisa luput dari persoalan konflik kemanusiaan. Selalu ada catatan-catatan kelam mengenainya. Setidaknya, dalam pengamatan saya, ada persoalan ruang dan identitas yang barangkali jarang dibicarakan esensinya secara gamblang. Pada dasarnya, identitas manusia—yang diperjuangkan mati-matian olehnya, berada dalam konsep ruang (space). Pertama, ruang dalam (deep space). Kedua, ruang permukaan/luar (surface space).

Apa yang dimaksud dengan identitas umumnya meruang dalam kesamaan (bukan perbedaan). Oleh karenanya, identitas juga erat kaitannya dengan ciri khas dan dalam skala besar menjadi sebuah kelompok. Perlu dicatat bahwa ciri ini yang mendorong lahirnya sebuah kelompok (atau kumpulan ciri khas yang sama). Misalnya bahasa, jenis kelamin, ras, etnik, suku, agama, pekerjaan, pendidikan, hobi, dsb.

Salah satu ilustrasi: orang dengan suatu bahasa tertentu (ciri khas dirinya) akan membangun kelompok dengan orang yang punya bahasa serupa—serumpun. Begitu juga dengan jenis kelamin, ras, etnik, suku, agama, pekerjaan, pendidikan, hobi, dsb tersebut. Imajinasi atau angan-angan atas ruang ini konsepnya sama dengan imajinasi atau angan-angan dalam pembayangan atas bangsa (nation). Oleh karenanya, ruang dalam (deep space) merupakan konsep, sedangkan ruang permukaan/luar (surface space) merupakan upaya perwujudannya dalam realitas.

Konflik Ruang
Dengan pemahaman serupa itu, maka bisa kita asumsikan bahwa konflik kemanusiaan (setidaknya) adalah konflik ruang—yang juga konflik identitas. Hal itu diperparah dengan legitimasi historis atas identitas (sekaligus ruang) itu sendiri. Maksudnya, kadang kita menggunakan kekuatan masa lalu atau sejarah sebagai warisan untuk mengatakan, “Ini sukuku, agamaku, kalian bukan, dan tidak berhak berada dalam wilayahku!”

Kata-kata itu bisa terlontar dari mulut siapa saja yang memiliki legitimasi historis atas ruang dan identitasnya.
Imbasnya, orang lain yang tidak sesuku atau sewilayah hanya akan berada di pinggir (periferal), dan kemungkinan bisa terusir dari ruang dan identitas yang tidak diakukan pada dirinya itu—kapan saja, dengan cara apa saja.

Ruang dan identitas “turunan” ini selalu menuntut orisinalitas. Dalam kasus tertentu, orisinalitas turunan ini bisa berbahaya terhadap yang tidak orisinal dan tidak turunan. Misalnya warisan pribumi dan nonpribumi. Pribumi adalah ruang dan identitas ideal, sebaliknya nonpribumi adalah ruang dan identitas nonideal (di luar ide, konsep, maupun wilayah).

Berbagi Ruang, Negosiasi Ruang
Jika kita membuka lagi karya sastra kuno yang ditulis oleh Mpu Tantular yaitu Kakawin Sutasoma, konsep bhῑnneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa adalah konsep berbagi ruang yang paling jelas. Pengakuan atas perbedaan adalah pengakuan atas negosiasi ruang dan identitas dalam partikel-partikel paling kecil sekalipun.

Artinya, tiap ruang dan identitas adalah unik. Ia berdiri sendiri atas dirinya sendiri, bukan atas dorongan, tekanan, paksaan ruang dan identitas lain. Pengakuan atas perbedaan juga menihilkan kuasa ruang identitas “warisan” atau “turunan” yang selalu menuntut keunggulan dan keidealan dalam banyak hal.

Perjuangan atas ruang dan identitas memang bukan persoalan mudah. Malala Yousafzai misalnya harus menanggung tiga buah peluru yang meluncur dari moncong pistol Colt. 45. Satu peluru mengenai lekuk mata kiri dan menembus pundak kiri. Dua peluru lainnya (untungnya) meleset, tetapi mengenai gadis di dekatnya dalam sebuah perjalanan bus menuju sekolah.

Ia berani menentang Taliban yang melarang anak gadis bersekolah. Sebuah perjuangan negosiasi ruang dan identitas yang penuh risiko. Namun, ia juga menegosiasikan ruang dan identitas melalui jalur spiritual dengan cara berdoa. Pertama, ia akan mendoakan ayah dan keluarganya. Kedua, jalanan dan wilayah sekitarnya. Ketiga, umat Muslim. Keempat, umat non-Muslim.

Doa yang cukup kompleks untuk sebuah negosiasi ruang dan identitas. Bisakah kita juga menegosiasikan hal serupa? ***

Joko Santoso, pengamat dan peneliti budaya. Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.

Lihat juga...