Warga Manfaatkan Pasir Dampak Proyek JTTS di DAS Kepayang
LAMPUNG — Proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket satu Bakauheni-Sidomulyo mmeberikan dampak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kepayang.
Dampak itu terbawanya material pembersihan lahan (land clearing) berupa tanah padas dan pasir ke Sungai Kelala. Sungai ini mengalir melalui Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang dan ke Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni.
Material tanah dan pasir tersebut menimbun sebagian besar aliran sungai serta sebagian mata air warga tertimbun.
Menurut Mastiati, salah satu warga di Dusun Kubanggajah yang mengalir ke sungai Kepayang sebagian warga yang menggunakan air sungai terpaksa harus harus membeli air bersih melalui tangki.
Sebagian warga lagi membuat sumur bor dengan tujuan memperoleh air bersih. Namun sebagian warga justru mendapatkan berkah dari kondisi tersebut.
“Kami memang sulit memperoleh air bersih dengan adanya material tanah dan pasir dampak dari proyek Jalan Tol Trans Sumatera terutama saat hujan deras sebagian sungai yang kerap dipergunakan warga untuk mencuci, mandi tertimbun,” beber Mastiati saat dihubungi Cendana News, Rabu (17/1/2018)
Selain berimbas pada lingkungan masyarakat sepanjang daerah aliran sungai Kubanggajah kondisi serupa juga dialami oleh masyarakat di Dusun Minangruah Desa Kelawi yang berada di aliran sungai Kepayang dengan nasib yang sama.
Beruntung meski sebelumnya memanfaatkan air sungai namun dengan adanya sumur dalam serta mata air yang ditampung dalam bak bak penampungan warga masih bisa mengakses air bersih.
Kondisi material tanah dan pasir tersebut diakui Supadi salah satu warga Dusun Minangruah berimbas pada salah satu air terjun yang disebut air terjun tujuh tingkat, kini hanya menjadi lima tingkat akibat dua tingkat sudah dipenuhi material tanah dan pasir. Sebagian aliran sungai bahkan dipenuhi material pasir hingga ke ujung muara.
“Selain berdampak bagi lingkungan sungai menjadi dangkal dan habitat ikan yang biasa hidup di sungai berkurang kami justru mendapatkan keuntungan berupa pasir,” ujar Supadi.
Supadi menuturkan dirinya merupakan salah satu warga yang memanfaatkan material pasir dampak pembangunan JTTS untuk bahan bangunan.
Mengumpulkan pasir mempergunakan karung dan alat seadanya setiap hari ia mengaku mengangkut hampir puluhan karung pasir dan dikumpulkan untuk membangun pondasi bangunan.
Supadi menyebut pasir yang masih memiliki kualitas bagus untuk bahan bangunan tersebut dikumpulkan bersama istri dan anak anaknya.
Dibanding membeli dari pertambangan pasir dirinya masih bisa menghemat sebesar Rp500 ribu hingga Rp1juta tanpa harus membeli pasir.
Pasir yang berada di tepi pantai terpisah dari pasir pantai sehingga mudah dikumpulkan, sekaligus membersihkan areal pantai yang tertimbun pasir terutama bagian yang masih memiliki tanah.
Supadi menyebut jika pasir tersebut tidak cepat diambil akibat terjangan gelombang serta hujan deras sebagian pasir dari sungai tersebut bisa hilang terbawa ombak.
Pasir yang dikumpulkan tersebut sebagian dimanfaatkan warga untuk membuat talud dengan mempergunakan karung mengantisipasi terjangan gelombang saat pasang tertinggi.