Pendangkalan Muara di Aceh Hambat Aktivitas Nelayan

LHOKSUKON — Mayoritas muara di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, dangkal sejak beberapa tahun terakhir, sehingga menyebabkan boat para nelayan daerah itu kesulitan saat beraktivitas melaut.

Seorang tokoh nelayan di Kabupaten Aceh Utara, Asnawi Idris dihubungi di Lhoksukon Kamis (25/1) membenarkan, mayoritas muara di daerah itu dangkal, terlebih di wilayah tengah dan timur Aceh Utara.

“Kondisi ini (muara dangkal) sudah berlangsung lama, sehingga menyulitkan boat nelayan saat keluar masuk tempat pendaratan ikan, tidak sedikit dari mereka juga harus menunggu air pasang baru bisa beraktivitas,” kata Asnawi Idris yang juga Sektretaris Panglima Laot (Lembaga adat laut) Aceh Utara.

Dangkalnya muara tersebut di ataranya terdapat di Muara Kuala Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kualu Passe, Kecamatan Samudera, Kuala Keuruto Barat, Kecamatan Tanah Pasir.

Kemudian Muara Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Kuala Piadah, Kuala Catok dan Kuala Jambo Aye, ketiga muara ini masuk ke wilayah perairan Kecamatan Seunuddon.

Ia mengakui, pemerintah telah membangun beberapa jetty dengan cara memasang batu gajah menjorok ke laut di beberapa muara daerah itu, seperti Muara Kuala Passe, Kuala Piadah dan Kuala Cangkoy, tetapi upaya itu tidak berpengaruh pada kedalaman muara.

“Pemasangan batu gajah ini hanya berfungsi untuk penahan ombak, tidak berpengaruh pada kedalaman muara. Oleh karena itu, kami berharap agar pemerintah dapat mengeruk sendimen muara, guna memudahkan para nelayan saat pergi dan pulang melaut,” harap Asnawi.

Akibat muara dangkal tersebut, kata Asnawi lagi, mengakibatkan puluhan boat nelayan Aceh Utara, khususnya kapal yang di 10 Gross Tonnage (GT) mendarat di tempat lain, seperti di Muara Pusong, Lhokseumawe.

Alasan mendarat dan bersandar di tempat lain, kata Asnawi, karena boat mereka kesulitan keluar masuk muara yang ada di Aceh Utara, seperti harus menunggu air pasang sehingga aktivitas mereka terhambat.

Tidak hanya boat bermesin di atas 10 GT, kata Asnawi lagi, boat nelayan tradisional bermesin di bawah 10 GT juga kesulitan keluar masuk, tidak sedikit dari nelayan harus menunggu air pasang untuk bisa beraktivitas.

“Ini benar-benar membuat nelayan kewalahan dan tidak sedikit dari mereka mengeluh kepada kami, karena hampir setiap harinya para nelayan ini pergi melaut untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga,” sebuat Anawi pula.

Keuchik (kepala desa) Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Fazal Umri saat ditemui beberapa waktu lalu, juga mengeluhkan hal yang sama. Menurut dia, sebuah muara yakni Muara Kuala Catok, yang berada di desanya juga dangkal.

“Muara Kuala Catok sudah sangat dangkal, dan kondisi ini sudah berlangsung lama sehingga menyulitkan nelayan keluar masuk muara. Kita berharap agar ada upaya pengerukan oleh pemerintah,” harap Fazal (Ant).

Lihat juga...