Pasca Tahun Baru, Sampah Pantai Minang Rua Melimpah Ruah

LAMPUNG — Pasca libur panjang sekolah, libur tahun baru berimbas pada besranya volume sampah di pantai Minang Rua. Sampah terlihat memenuhi sebagian destinasi wisata di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan.

Hanya sja amenurut Edi Nuryadi (30) salah satu anggota kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Minang Rua Bahari hal itu telah diantisipasi. Pihaknya sudah menyiapkan puluhan kotak sampah portable beroda sehingga di pindah ke lokasi berbeda untuk pembersihan sampah.

Pada saat kunjungan wisatawan pada libur tahun baru Senin (1/1/2018) jumlah pengunjung ke pantai tersebut mencapai ribuan orang. Sebagian wisatawan membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik,kertas dan berbagai sampah yang tak bisa diurai secara alami.

Meski sudah disiapkan puluhan kotak sampah Edi Nuryadi menyebut kesadaran wisatawan untuk membuang sampah pada tempatnya masih rendah.

“Pembersihan kita lakukan selama dua hari penuh khusus untuk sampah yang dibuang oleh wisatawan. Sampah langsung dimusnahkan dengan cara dibakar sebagian ditimbun. Selain merusak pemandangan keberadaan sampah itu membahayakan terutama untuk botol minuman kaca,” ujar Edi Nuryadi kepada Cendana News, Rabu (3/1/2018)

Pembersihan pantai tersebut dilakukan dengan mempergunakan peralatan sederhana berupa serok sampah,kotak sampah dan sapu yang merupakan swadaya pokdarwis dan sebagian dibantu oleh Dinas Pariwisata Provinsi Lampung.

Meski kerap sudah dibersihkan saat pagi hingga sore hari pada bagian daratan pasir namun ia menyebut kiriman sampah dari perairan laut kerap datang saat malam hari.

Volume sampah yang mencapai lebih dari ratusan kubik membuat kewalahan petugas kebersihan. Untuk mengatasinya pihak pokdaswis bergotong royong. Pembersihan dilakukan setiap hari Sabtu akhir pekan.

Sehingga pada hari Minggu saat para pengunjung berdatangan pantai tersebut dalam kondisi bersih. Selain sampah dari laut ia menyebut sampah kiriman kerap berasal dari sungai menambah volume sampah yang ada di tepi pantai.

“Meski bagian daratan sudah bersih setiap pagi, saya harus membersihkan sampah terutama di pantai yang berada di dekat vila dan sebagian bungalow untuk peristirahatan agar pengunjung tidak kecewa melihat kondisi pantai yang kotor,” ungkap Edi.

Kondisi pantai yang kotor kerap terjadi pasca terjadi cuaca buruk di perairan dengan disertai angin kencang dan gelombang tinggi sehingga berimbas kiriman sampah dari wilayah lain.

Sebagian sampah juga datang dari wilayah perairan Pulau Jawa yang kerap terbawa arus dan menepi ke pinggir pantai Minang Rua. Jika tidak rutin dibersihkan Pantai Minang Rua tidak akan seperti kondisi sekarang yang relatif bersih.

Edi bekerja secara ikhlas. Laki-laki asal Serang Provinsi Banten yang merantau ke Lampung rela dibayar Rp50 ribu sepekan atau Rp200 ribu per bulan untuk membersihkan sampah di area tersebut.

Meski dibayar kecil namun Edi menyebut lingkungan yang bersih menjadi tanggung jawab yang harus diembannya agar pengunjung nyaman berada di pantai tersebut.

Edi Nuryadi mengaku kerap terbantu dengan adanya belasan orang pencari rongsokan atau sampah yang masih bisa dimanfaatkan untuk didaur ulang sehingga bisa dijual dan menghasilkan uang.

Salah satu pencari rongsokan bernama Arsih menyebut setiap pagi dirinya menyusuri Pantai Minang Rua dengan panjang mencapai satu kilometer untuk mencari sampah plastik.

Sampah plastik yang diambil dan dipilah di antaranya jenis botol air minum kemasan yang bisa dijual dengan harga Rp2.000 per kilogram. Dia kerap memperoleh sekitar 20 kilogram sampah setiap pagi.

Selanjutnya sampah yang dikumpulkan itu dijual ke pengepul untuk dikirim ke pabrik daur ulang plastik. Selain ikut membersihkan sampah Arsih menyebut ikut mencari penghasilan membantu sang suami yang bekerja sebagai nelayan tangkap di perairan Selat Sunda.

“Selain sampah plastik yang berasal dari kiriman gelombang laut saat liburan panjang jumlah sampah plastik meningkat sehingga saya ikut membersihkan,“ terang dia.

Arsih menyebut kiriman sampah yang menepi ke pinggir pantai kerap merupakan sampah yang tidak memiliki nilai jual. Dia hanya memilah sampah jenis plastik.

Sampah berupa kayu dan plastik tak bernilai jual disebutnya kerap dibersihkan oleh petugas kebersihan yang bekerja setiap hari di objek wisata pantai tersebut.

Destinasi wisata Pantai Minang Rua terlihat bersih pasca pembersihan -Foto: Henk Widi.
Lihat juga...