QUETTA – Sebuah bom meledak di pusat Kota Quetta, ibu kota Provinsi Balochistan, Pakistan, Selasa (9/1/2018). Pejabat polisi dan rumah sakit setempat menyebut, akibat dari ledakan tujuh orang tewas serta 23 orang mengalami luka-luka.
Informasi yang diperoleh menyebut, ledakan tersebut menargetkan sebuah truk polisi yang berada di dekat kawasan dengan keamanan tinggi tersebut. Lokasi ledakan merupakan daerah dimana majelis provinsi dan kantor pemerintah lainnya berada.
Petugas polisi senior setempat Abdul Razzaq Cheema mengatakan, seorang pelaku bom bunuh diri diyakini telah berjalan ke truk dan meledakkan diri. Tujuh orang yang menjadi korban adalah lima polisi dan dua warga sipil.
Seluruh korban baik yang tewas maupun luka-luka saat ini sudah dibawa ke rumah sakit umum terdekat. “Korban tewas lima polisi dan dua sipil, juga korban luka, dibawa ke Rumah Sakit Umum,” kata pejabat kesehatan setemapt Dr Waseem Baig.
Informasi dari rumah sakit yang diterima Baig, korban tewas dimungkinkan masih akan bertambah. Hal tersebut melihat korban luka masih ada yang dalam kondisi kritis akibat luka yang dialami.
Meski ledakan yang diyakini sebagai serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Menteri Kepala Provinsi, Sanaullah Zehri, mengundurkan diri, serangan tersebut diyakini tidak ada memiliki indikasi berhubungan dengan politik provinsi setempat.
Zehri mundur setelah beberapa anggota partai PML Nawaz memberontak dan melawannya untuk mendukung mosi tidak percaya di majelis provinsi, di mana Zehri saat ini tidak lagi memerintah dengan dukungan mayoritas.
Provinsi Balochistan merupakan kawasan penting dalam Koridor Ekonomi dan Energi China-Pakistan senilai 57 miliar dolar yang ingin dibangun China sebagai bagian dari inisiatif “belt and road”. Bulan lalu dua pembom bunuh diri menyerang gereja Kristen yang penuh sesak di Pakistan barat daya membunuh sembilan orang dan melukai hingga 56 orang. Ledakan di gereja tersebut diklaim oleh kelompok IS di negara tersebut.
Sebelumnya Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Jumat (5/1/2018) mengatakan, negara itu melancarkan perang melawan terorisme dengan menggunakan sumber dayanya sendiri. Kementerian tersebut tampaknya bereaksi terhadap penghentian bantuan keamanan yang diumumkan oleh Amerika Serikat.
Washington mengumumkan Amerika Serikat akan membekukan pengiriman perlengkapan militer dan dana yang berkaitan dengan keamanan buat Pakistan. Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert.
Dampak dari keputusan AS mengenai upaya untuk mencapai sasaran bersama juga tampaknya menjadi lebih jelas seiring dengan berjalannya waktu. Namun Washington menyebut, Pakistan perlu dihargai karena telah melancarkan perang melawan terorisme terutama dengan menggunakan sumber dayanya sendiri, yang nilainya lebih dari 120 miliar dolar AS dalam 15 tahun terakhir.
Pakistan disebut Nauert, bertekad untuk terus melakukan semua yang harus dikerjakannya guna menjamin keamanan nyawa warga kami dan kestabilan yang lebih luas di wilayahnya.
Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley pada Selasa (2/1) mengatakan Washington akan menahan 255 juta dolar AS dalam bentuk bantuan untuk Pakistan dari Dana Militer Asing, yang digunakan untuk menyediakan perlengkapan militer dan pelatihan buat negara sahabat, kata beberapa laporan. (Ant)