[Review] Film ‘Chrisye’, Kegelisahan Sang Penyanyi Legendaris

JAKARTA – Kegelisahan selalu menyelimuti seorang seniman sebagai bagian dari proses kreatifnya. Begitu juga dengan Chrisye yang gigih memperjuangkan sebagai penyanyi membuat dirinya selalu gelisah. Sekalipun popularitas telah didapatkan, kegelisahannya tak pernah berhenti.

Kegelisahan berlanjut pada proses pencarian jati dirinya. Menikah dengan Yanti dan berkeluarga, membuka cakrawala baru baginya. Tapi Chrisye tetap saja gelisah sampai pada pencarian hakiki tentang makna kehidupan yang mendasari Chrisye dalam menyanyikan lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Demikian yang tersirat dari film ‘Chrisye’

Film ini dibuka dengan dokumentasi kabar meninggalnya Chrisye yang mengharukan. Tampak rumahnya didatangi banyak pelayat. Sebagai penyanyi legendaris tentu banyak orang yang datang untuk mencapaikan turut berduka.

Tayangan kemudian menampilkan, flashback awal karir Chrisye (Vino G Bastian) bersama bandnya, Gipsy, di era 70-an. Di band itu, Chrisye belum menjadi vokalis, tapi bassis. Saat itu, Gipsy tampil di acara sebuah ulang tahun. Dimana tuan rumah yang menanggap band Gipsy ternyata teman Damayanti Noor (Velove Vexia). Chrisye sendiri sudah cukup mengenal sosok perempuan yang kelak kemudian menjadi istrinya tersebut.

Benih cinta mulai tumbuh pada diri Yanti. Ketika teman-temannya asik berdansa mengikuti lagu yang dibawakan Gipsy, Yanti justru asik memerhatikan Chrisye yang sedang beraksi di atas panggung.

Suatu hari Chrisye mendapat kabar kalau Gipsy diundang untuk tampil di Amerika, tapi bersamaan itu pula Chrisye mendapat surat peringatan dari Universitas Trisakti, kampusnya, karena ia jarang masuk kuliah. Hal inilah yang membuat ayahnya marah. Sang ayah menganggap bahwa menjadi penyanyi tidak menghasilkan dan menginginkan Chrisye menjadi seorang insinyur

Poster Film Chrisye – Foto PH MNC Pictures Vito Global Visi/Akhmad Sekhu

Karena dimarahi sang ayah, Chrisye jatuh sakit. Ketika ayahnya tidur bermimpi didatangi orang berbaju putih yang mengatakan, bahwa Chrisye pada hakekatnya bukan anaknya, tapi anak masa depan. Chrisye punya bakat besar untuk menjadi penyanyi hebat. Karena mimpi itu, sang ayah mengijinkan Chrisye untuk ke Amerika.

Kebersamaan Chrisye dengan Gipsy tak berlangsung lama. Sepulang manggung dari Amerika, Chrisye mendapat tawaran untuk menyanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil dari salah satu finalis lomba yang diadakan salah satu stasiun radio. Beralasan masih memiliki band, Chrisye awalnya menolak tawaran itu. Namun, setelah coba diyakinkan, Chrisye akhirnya bersedia untuk menerima tawaran untuk tampil solo. Keputusan Chrisye untuk menerima tawaran itu tidak keliru. Hal itu terlihat dari meledaknya lagu Lilin-Lilin Kecil di pasaran.

Keputusan Chrisye untuk berkarir solo juga membuat intensitas pertemuannya dengan Yanti lebih besar. Keduanya kembali bertemu ketika Chrisye mendapat proyek bersama Guruh Soekarno Putra. Dalam waktu bersamaan, Yanti sedang bekerja membantu Guruh.

Dalam pertemuan itu, giliran Chrisye yang terus memerhatikan perempuan itu. Beruntung, mereka memiliki kesempatan untuk ngobrol berdua. Hubungan keduanya semakin intens setelah pertemuan itu. Bahkan, teman-temannya sering menggoda Chrisye dengan menanyakan kapan akan meminang Yanti.

Seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya semakin dekat. Namun, rencana mereka untuk menikah sedikit mendapat halangan, lantaran Yanti ingin menikah secara Islam. Setelah melalui beberapa perenungan, Chrisye pun akhirnya memutuskan untuk menjadi muallaf.

Kehidupan rumah tangga mereka pun berjalan cukup bahagia. Hingga akhirnya mereka dikarunia seorang anak, Rizkia Annisa, yang melengkapi kehidupan pasangan itu. Tapi, Chrisye kemudian dilanda kekhawatiran dengan masa depan sang anak.

Saat akan menggelar konser tunggalnya, Chrisye yang saat itu sudah menjadi musisi dengan jumlah penggemar yang banyak merasa khawatir tidak bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Kondisi tersebut, semakin diperkuat dengan sulitnya mencari promotor. Beruntung, di sela-sela kondisi itu, RCTI siap untuk mendukung konser tunggal sang maestro.

Namun, hambatan kembali menghampiri Chrisye dan tim. Dua hari menjelang hari H, Chrisye tiba-tiba kehilangan suara. Kondisi tersebut kontan mengundang kekhawatiran dari banyak kalangan, tidak terkecuali Damayanti. Karena tiket sudah habis terjual, konser tunggal itu bagaimana pun harus terlaksana. Suasana pesimistis masih menyelimuti orang-orang di balik layar, termasuk Erwin Gutawa yang mengiringi aksi Chrisye itu.

Beruntung, setelah orchestra yang dipimpin Erwin Gutawa mulai terdengar, suara Chrisye kembali muncul, dan penonton pun bersorak menyambut penampilan sang idola. Suasana bahagia pun terlihat pada orang-orang di balik layar konser. Aksi perdana Chrisye itu pun mendapat respons dari insan media. Keesokan harinya, berita konser sang legenda menghiasi koran-koran pagi. Namun, suasana bertolak belakang dialami Chrisye.

Kondisi tersebut terus menghampiri Chrisye hingga akhirnya membawa dia berinisiatif untuk membuat lagu bertema Ketuhanan. Namun, lantaran terus mengalamin kegagalan dalam membuat lirik lagu, Chrisye akhirnya menemui Taufik Ismail. Dari hasil pertemuan itu, lahirlah Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Film ‘Chrisye’ cukup menghibur. Rizal Mantovani semakin matang dalam penyutradaraan. Adapun akting Vino G Bastian sebagai Chrisye masih belum sepenuhnya “menjadi” Chrisye. Di awal film Vino terkesan biasa saja, tapi pada akhir-akhir film dengan memakai kacamata tampak Vino mampu “menghidupkan” Chrisye.

Dalam beberapa adegan, penonton akan tertawa melihat gaya dan aksi sang legenda. Tawa penonton akan semakin pecah ketika Chrisye dipaksa harus menyanyi dalam menyanyikan lagu ‘Aku Cinta Dia’ di TVRI.

Di sisi lain, emosi kita diaduk-aduk lewat beberapa adegan yang cukup menyentuh. Adegan ketika Chrisye menggelar konser tunggal di RCTI dan proses rekaman lagu ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’, yang membuat kita hanyut dalam kegelisahan Chrisye

Lihat juga...