Kenaikan Harga Bahan Makanan, Faktor Utama Inflasi NTB

MATARAM – Kepala Bidang Distribusi Logistik, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Ni Kadek Adi Madri mengatakan, bulan November 2017 NTB mengalami inflasi 0,37 persen atau Indeks Harga Konsumsi (IHK) dari 128,31 pada bulan Oktober menjadi 128,79 pada bulan November 2017.

“Dari beberapa faktor pemicu inflasi, faktor kenaikan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok makanan menjadi faktor paling dominan penyebab terjadinya inflasi di NTB,” kata Kadek di saat menyampaikan keterangan tertulis BPS di Mataram, Senin (4/12/2017).

Dikatakan Kadek, kenaikan harga pada kelompok bahan makanan antara lain sebesar 1,03 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,27 persen, kesehatan sebesar 0,25 persen, kelompok makanan jadi, minuman, Rokok dan tembakau sebesar 0,14 persen.

Kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,13 persen, kelompok sandang sebesar 0,02 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,02 persen.

“Angka inflasi yang terjadi di NTB bahkan berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,20 persen, dimana Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 0,26 persen dan Kota Bima mengalami inflasi sebesar 0,81 persen,” katanya.

Lebih lanjut Kadek menambahkan, laju inflasi NTB tahun kalender November 2017 sebesar 2,83 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender November 2016 sebesar 1,96 persen. Sedangkan laju inflasi bulan November 2017 dari tahun ke tahun sebesar 3,48 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi tahun ke tahun bulan November 2016 sebesar 2,89 persen.

Sebelumnya, mengantisipasi terjadinya lonjakan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok di sejumlah pasar tradisional, khususnya pada pelaksanaan PHBI, Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Operasi Pasar (OP) dengan harga lebih murah.

“Kalau kita lihat, harga sejumlah kebutuhan pokok, khususnya beras, trennya naik terus. Karena itulah pemerintah melakukan intervensi dengan menggelar OP jangan sampai nanti kita terkejut harga tiba-tiba sudah naik tinggi,” kata Kepala Bulog Wilayah NTB, Achmad Ma’mun.

Dikatakannya pula, intervensi dilakukan dengan menjual sejumlah kebutuhan bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng dan bawang putih kepada masyarakat dengan harga lebih murah dari harga pasaran.

Untuk jenis beras medium, misalnya, kalau beli di Bulog harganya Rp7.300, sementara ketika dijual dengan harga Rp8.100 per kilo. Padahal harga di pasaran mencapai Rp9.000 bahkan lebih.

“Untuk gula, dijual dengan harga Rp12.000 per kilo di pasaran bisa Rp12.500 hingga 13.000 per kilo. Demikian juga dengan minyak goreng dari Rp13.000 menjadi Rp12.000. Begitu juga bawang putih, naik-turun,” katanya.

OP sendiri akan digelar hingga 31 Desember mendatang di seluruh wilayah NTB. Untuk beras Bulog NTB menyediakan stok 3.000 ton, tapi untuk sehari paling tidak tersedia 2 sampai 3 ton. OP bekerjasama dengan pihak pengelola pasar akan dilihat perkembangannya. Setiap minggu dilakukan evaluasi, berapa penyerapannya dalam sehari.

Lihat juga...