Siswa SMKN 1 Sawoo Diajari Bisnis Kue

PONOROGO – Wakil Bupati Ponorogo, Soedjarno mengatakan, betapa pentingnya pendidikan dibarengi dengan keterampilan. Seperti yang sudah dilakukan oleh siswa kelas XII SMKN 1 Sawoo jurusan tata boga. Siswa tidak hanya diajari bagaimana cara memproduksi namun juga diajari bagaimana menjual dan mencari untung dari pakar asal Belanda.

“Pendidikan di SMK dengan ilmu yang diserap dan keterampilan yang dibimbing oleh negara luar ini membuktikan Indonesia potensial untuk dikembangkan,” jelasnya di tengah sambutan, Kamis (16/11/2017).

Kepala Sekolah SMKN 1 Sawoo, Udi Tyas Arinto/Foto: Charolin Pebrianti

Menurutnya, siswa SMK lebih unggul dalam bidang keterampilan terlebih lagi mendapatkan bimbingan dari pakar langsung asal Belanda. Terlebih lagi letak SMK berada di jalur waduk Bendo Sawoo yang saat ini tengah dibangun oleh Pemkab Ponorogo.

“Nantinya kalau waduk selesai akan jadi jalur wisata, ini posisi strategis,” ujarnya.

Baginya, pendidikan untuk siswa SMK tidak lagi jadi tugas bapak ibu guru namun juga pemerintah dan masyarakat agar SMK lebih maju, diikuti dengan kemauan dan kemampuan yang ada.

Kepala Sekolah SMKN 1 Ponorogo, Udi Tyas Arinto, saat ditemui menuturkan di SMKN 1 Ponorogo ada program nasional, yakni Tefa yang berarti Teaching Factory. Pembelajaran berbasis industri, mengadopsi budaya industri, diimplementasikan ke dalam proses pembelajaran berstandar.

“Kalau disini namanya Steva, Sawoo Teaching Factory and Bakery, karena khusus jurusan tata boga yang diberikan bantuan dari direktorat,” cakapnya.

Wakil Bupati Ponorogo, Soedjarno, saat meresmikan toko kue milik SMKN 1 Ponorogo/Foto: Charolin Pebrianti

Anak didik pun diajari untuk konsisten dan tepat waktu saat produksi. Seperti standar industri pada umumnya. Sebanyak 60 siswa kelas XII jurusan tata boga ini mendapatkan bantuan alat dan tenaga pengajar asal Belanda.

Salah satu siswa, Nur Aisyah menambahkan, dirinya senang dengan sistem belajar seperti ini. Pasalnya, ia dan kawan-kawannya bisa terjun langsung memproduksi kue, mulai dari belanja, produksi dan pemasaran. Sistem belajar yang dipakai yakni satu minggu teori dan satu minggu praktik.

“Seringkali ada pesanan, kami bisa buat 50-100 kue per hari,” pungkasnya.

Lihat juga...