Sambil Budidaya Jaga Lingkungan Cara Warga Lamsel
LAMPUNG — Pemanfaatan lahan pekarangan dan perkebunan dengan melakukan penanaman beragam kayu produktif multi fungsi sebagai penghasil buah, kayu, pakan ternak terus dikembangkan oleh warga di beberapa desa di Kabupaten Lampung Selatan.
Barus (39), salah seorang di antaranya mengungkapkan pemanfaatan pekarangan punya fungsi menjaga lingkungan. Penanaman sejumlah tanaman di lahan pekarangan dilakukan dengan penanaman jenis pohon buah buahan sekaligus kayu berkanopi.
Jenis tanaman yang masih favorit dibudidayakan olehnya dan masyarakat di antaranya kelapa hibrida sebagai penghasil bumbu dapur, nangka mini dan nangka besar yang buahnya bisa dimanfaatkan sebagai buah dan sayur dan daun sebagai pakan ternak, tanaman jati gamalina, mahoni, mindi sebagai peneduh sekaligus sumber pakan ternak kambing.
“Selain kesadaran sendiri serta pengalaman selama bertahun tahun silam kami melakukan proses penanaman berbagai jenis tanaman kayu dan buah karena manfaat yang cukup banyak dan tentunya memiliki fungsi menjaga lingkungan,” ujar Barus salah satu petani warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan yang memiliki sebanyak belasan pohon nangka mini dan sebagian nangka besar yang ada di pekarangan miliknya, Selasa (8/11/2017)
Selain sebagai tanaman peneduh menjaga kesejukan di halaman rumahnya, tanaman nangka tersebut dimanfaatkan pada bagian daunnya untuk pakan ternak kambing saat sumber pakan sulit dicari sehingga ia lebih mudah mendapatkan pakan. Sumber penahan air untuk pasokan air sumur bahkan ikut terbantu karena berbagai jenis pohon kayu yang ditanamnya membantu peresapan air tanah.
Hasil buah dari tanaman nangka sekaligus buah mangga yang ditanamnya bahkan kerap dibeli oleh pengepul buah. Mereka mencari nangka muda bahan baku sayur lodeh dan gudeg. Nangka muda dibeli pengepul dengan harga per kilogram mencapai Rp3.000. Sementara berat satu buah nangka muda bisa mencapai 5-10 kilogram.
Satu pohon biasanya menghasilkan 10-15 buah nangka. Buah buahan jenis mangga dan jambu di kebunnya juga kerap dibeli dengan harga Rp2.000 per kilogram sebagai bahan baku pembuatan manisan dan rujak.
Konsep penanaman pohon multifungsi dengan meniru hutan di kawasan Gunung Rajabasa juga diterapkan oleh Sumaryono (50) yang menanam pohon durian, cempaka, nangka, kelengkeng di halaman belakang rumahnya. Ia bahkan sengaja menanam berbagai jenis tanaman kayu memperhitungkan manfaat jangka panjang dan lingkungan yang nyaman.
“Beberapa tanaman sengaja kerap saya pangkas agar tajuknya tidak terlalu tinggi namun membentuk kanopi sebagai peneduh agar nyaman saat berteduh di bawahnya,”beber Sumaryono.
Jenis tanaman coklat dan beragam buah tersebut sekaligus ikut terpelihara dengan sistem irigasi yang lancar di belakang rumah yang ditinggalinya. Air dari irigasi itu bisa dipergunakan sebagai penyedia air kolam ikan nila dan gurame.
Sebuah rumah panggung mini bahkan sengaja disediakan olehnya untuk bersantai sembari menikmati memancing di kolam di bawah keteduhan pohon buah yang ditanamnnya.
Menurut Sumaryono saat ini tidak ada alasan untuk tidak menanam karena berbagai jenis bibit tanaman tersedia secara gratis di persemaian permanen milik balai besar pengelolaan daerah aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS).
Selain itu lahan yang terbatas bisa disiasati dengan menanam berbagai jenis tanaman perdu yang dirawat sedemikian rupa hingga tidak bertajuk tinggi dan tak mengganggu lahan dan rumah.
“Pemanfaatan lahan juga bisa dilakukan dengan menanam bonsai dan bunga jenis anggrek yang sekaligus ikut melestarikan lingkungan,” beber Sumaryono.
Penggemar memelihara ikan ini menanam berbagai jenis tanaman buah. Dia mengaku upaya menjaga lingkungan tersebut bisa dilakukan olehnya dan masyarakat dengan cara sederhana bahkan tanpa harus memanfaatkan lahan yang luas.
Konsep penanaman pohon atau tanaman multifungsi diakuinya akan bermanfaat secara ekonomi bagi setiap keluarga sekaligus ikut menjaga lingkungan.
