Sabuk Hijau Mangrove, Bantu Keberlangsungan Tambak Tradisional

LAMPUNG – Jajaran pohon bakau atau mangrove di sepanjang pesisir Dusun Pegantungan hingga Dusun Penobakan Desa Bakauheni masih tegak berdiri menantang terjangan ombak dan angin yang menghantam wilayah pesisir yang menghadap ke bibir Selat Sunda.

Tusam (50) sebagai warga sekaligus petambak tradisional pembudidaya udang vannamei (litopenaeus vannamei) menyebut, sangat terbantu dengan keberadaan beberapa hektar lahan mangrove yang masih dipertahankan di wilayah tersebut.

Jajaran tanaman mangrove menjadi sabuk hijau alami melindungi area tambak dan perkampungan nelayan. [Foto: Henk Widi]
Tusam bahkan menyebut keberadaan pohon mangrove di wilayah tersebut sengaja dipertahankan dan direhabilitasi oleh warga sebagai sabuk hijau (green belt) yang berfungsi sebagai penahan gelombang, angin sehingga perkampungan nelayan lebih aman dari hembusan angin dalam kondisi cuaca buruk yang terjadi sejak awal bulan November.

Jajaran tanaman mangrove tersebut diakui Tusam masih menjadi andalan masyarakat sebagian sebagai bahan bakar untuk memasak terutama jenis mangrove api-api yang ditanam pada tanggul yang berhadapan ke laut.

“Sebagian masyarakat sekaligus pembudidaya tambak udang vaname tentunya sangat terbantu dengan keberadaan tanaman mangrove di pesisir pantai Pegantungan hingga Penobakan karena sekaligus sebagai penghambat abrasi,” terang Tusam, warga Dusun Penobakan Desa Bakauheni, sekaligus sebagai pembudidaya udang vaname saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (9/11/2017).

Selain sengaja dipertahankan oleh masyarakat, ia mengaku, berdasarkan aturan sempadan pantai yang ada di wilayah tersebut sesuai ketentuan pasal 1 angka 21 UU no 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil secara umum adalah 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat sehingga sebagian tambak terletak jauh dari pantai. Sempadan pantai yang ada bahkan masih dimanfaatkan masyarakat untuk pertumbuhan mangrove tanpa ada yang mengusik.

Tusam mengakui keberadaan tanaman mangrove sekaligus menjadi penahan bagi tanggul saluran air laut yang akan dipergunakan untuk pengairan lahan tambak miliknya dan puluhan petambak tradisional yang selanjutnya dialirkan menggunakan mesin sedot. Tanpa adanya tanaman mangrove tersebut ia menyebut tanggul berpotensi longsor dan terkena abrasi terutama saat pasang tertinggi. Perkampungan warga juga ikut terjaga keamanannya terutama sebagian rumah di kampung nelayan masih menggunakan atap daun rumbia dan asbes tidak terganggu terjangan angin laut.

Hasil yang cukup lumayan dari budidaya udang vaname di wilayah tersebut juga cukup memberi dampak ekonomi bagi masyarakat diantaranya penjual udang vaname eceran dari hasil panen parsial pemilik tambak. Saat ini diakuinya harga udang vaname yang biasanya dipanen pada usia 75 hari dengan panen parsial pada umur 50 hari dijual dengan harga Rp50.000 per kilogram dan semakin mahal saat usia memasuki umur 60 hingga 75 hari.

Umini duduk menunggu pembeli udang vaname dari tambak di wilayah Bakauheni. [Foto: Henk Widi]
“Hasilnya cukup lumayan meski dijual secara eceran karena udang vaname yang kami jual banyak diminati oleh masyarakat sebagai lauk,” terang Umini, penjual udang di Bakauheni.

Ia menyebut, keberlangsungan tambak tradisional yang tetap bertahan di wilayah Bakauheni dan sekitarnya ikut didukung dengan upaya warga mempertahankan mangrove. Sebab di wilayah lain banyak pantai yang sudah terkena abrasi akibat mangrove yang sudah rusak. Mangrove yang bertahan dan dipertahankan ikut membantu perekonomian masyarakat termasuk menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Lihat juga...