Rumah Singgah ‘Peduli’ di Bali Bantu Pasien Miskin
DENPASAR- Rumah Sakit Sanglah Denpasar, Bali, menjadi salah satu rumah sakit di Indonesia yang menjadi rujukan bagi pasien miskin di kawasan Timur Indonesia. Tidak jarang banyak pasien dari pelosok saperti NTB, Papua dan Makassar datang ke rumah sakit yang terletak di Pusat Kota Denpasar ini untuk berobat.
Rata-rata pasien yang dirujuk ke Rumah Sakit Sangka merupakan masyarakat miskin yang menggunakan fasilitas kesehatan gratis dari pemerintah, mulai dari Surat Pernyataan Miskin (SPM), Kartu Indonesia Sehat (KIS) atau beberapa fasilitas kesehatan gratis lainnya.
Tak ayal, keberadan rumah singgah dalam hal ini sangatlah membantu mereka, karena di tempat ini mereka bisa tinggal secara gratis selama menjalani proses pemeriksaan di rumah sakit.
Di sekitar RS Sanglah, ada beberapa rumah singgah, baik yang dibangun oleh pemerintah maupun swadaya. Salah satunya seperti Rumah Singgah Peduli. Rumah Singgah ini dibangun atas swadaya dari sebuah yayasan yang berpusat di Kota Bandar Lampung, Sumatera.

“Bagi pasien yang datang jauh-jauh ke Rumah Sakit Sanglah, tentu bukan perkara mudah. Mereka harus mempersiapkan beberapa hal mulai dari tenaga serta biaya yang tidak sedikit. Selain itu, mereka biasanya terkendala tempat penginapan selama proses pemeriksaan berlangsung. Jika harus menginap di hotel atau losmen tentu akan membutuhkan biaya tambahan. Tidak jarang mereka membutuhkan sebuah tempat yang bisa menampung mereka. Nah, tempat ini kami sediakan gratis buat mereka”, ucap Sri Rahayu, koordinator Rumah Peduli Denpasar, saat ditemui di Denpasar Jumat (17/11/2017) sore.
Ayo, sapaan akrabnya, mengatakan lagi, meski gratis, namun pihaknya tidak menanggung kebutuhan sehari-hari bagi pasien dan keluarga pasien, kecuali makan. Artinya, rumah singgah yang baru berdiri beberapa bulan lalu ini tidak menanggung kebutuhan seperti susu dan kebutuhan lainnya.
Selain itu, bagi pasien yang tinggal diwajibkan mematuhi aturan yang sudah dibuat. Aturan tersebut dilarang merokok, baik bagi pasien maupun bagi keluarga pasien, tidak memiliki penyakit yang berbau dan menular seperti TBC.
“Hal itu dilakukan untuk tetap menjaga lingkungan rumah singgah tetap steril”, imbuh wanita asal Bandar Lampung ini.
Fasilitas di rumah singgah ini cukup memadai, selain ruangan yang bersih, juga memiliki alat bantu pernafasan dan alat-alat kesehatan lainnya. “Untuk donatur di rumah singgah ini masih terbilang sedikit, hanya satu donatur yang pasti. Kalau yang lain masih belum. Karena itu, kami berharap bantuan dari para dermawan untuk menyisihkan rezekinya untuk Rumah Singgah ini”, harapnya.

Rumah Singgah ini memiliki puluhan relawan, yang bertugas sukarela untuk membantu segala kebutuhan di rumah singgah tersebut. Mereka juga melakukan pendampingan kepada pasien yang tinggal di Rumah Singgah Peduli selama proses pemeriksaan di rumah sakit Sanglah. Untuk bangunannya sendiri rumah singgah masih berstatus kontrak.
Abdul Hakim, dari Bima, yang merupakan ayah dari salah satu pasien yang mengidap kanker kaki dan kanker darah, merasa sangat terbantu dengan adanya rumah singgah ini. “Alhamdulillah, kami sangat dibantu dikasih tempat tinggal secara gratis dan didampingi saat pemeriksaan pula”, ucapnya.
Dirinya mengetahui adanya rumah singgah ini saat ada koordinator dari Rumah Peduli ini yang datang ke rumah sakit.
Supriadin (14), putra Abdul Hakim terpaksa harus dirujuk ke RS Sanglah setelah divonis dokter di Bima mengidap penyakit kanker kaki dan kanker darah. Ia harus menjalani pemeriksaan secara serius di Sanglah.
Rumah Singgah Peduli berdiri pada 3 April 2017. Meski baru berdiri, setiap bulan rata-rata rumah singgah ini menerima empat pasien. Yayasan rumah singgah ini berpusat di Lampung. Berdiri sejak delapan tahun lalu. Memiliki beberapa cabang di beberapa kota di Indonesia seperti Bali, Semarang, Karawang (baru didirikan) dan Jakarta.