[Review] ‘Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak’, Ironi Perempuan Mencari Keadilan
JAKARTA — Bagaimana kalau rumah seorang janda kemalingan? Dia baru saja ditinggal mati suaminya. Hanya ada dua pilihan yang bisa dia lakukan; melawan ataukah pasrah? Sebenarnya, masih ada satu lagi alternatif pilihan, yakni minta tolong. Tapi karena rumah tetangga jauh sekali letaknya, teriak minta tolong tentu bukan alternatif pilihan terbaik.
Betapa benar-benar tak ada yang bisa menolong sang janda, selain hanya dirinya sendiri. Dia pun nekad, bahkan kalap, melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Pilihan paling akhir; membunuh atau dia sendiri yang dibunuh. Demikian yang mengemuka darii film ‘Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak’
Kisahnya tentang Marlina (yang diperankan sangat menyakinkan oleh Marsha Timothy) adalah seorang janda yang sedang berkabung. Setiap hari ia membanting tulang untuk mengumpulkan cukup uang, demi membiayai ritual upacara pemakaman suaminya yang baru saja meninggal. Jasad suaminya diawetkan dan terbaring di ruang tamunya, menunggu waktunya dimakamkan.
Tragedi paling tragis dan sadis yang menimpa diri sang janda, berawal dari datangnya Markus (Egy Fedly) ke rumahnya, yang kemudian disusuli oleh teman-teman Markus untuk membawa seluruh hewan ternak Marlina karena suaminya belum melunasi utang. Tak hanya itu para penjahat itu juga akan melakukan pemerkosaan berkelompok.
Rumah Marlina yang jauh dari tetangga membuat dia tidak dapat meminta pertolongan kepada orang lain, sehingga dia hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri. Maka dalam keadaan terdesak seperti itu wajar saja dia melakukan apa saja yang bisa dilakukan.
Marlina memilih untuk menghabisi nyawa orang-orang dengan memenggal kepala Markus yang memperkosanya. Setelah itu, dia pun berencana melapor ke polisi sambil membawa kepala pemerkosanya.
Tentu tindakan itu memiliki konsekuensi, ada beban moral yang ditanggungnya karena telah membunuh orang, sehingga sepanjang perjalanan ke kantor polisi, bayangan tentang peristiwa pembunuhan tersebut terus menghantuinya. Tetapi Marlina tak mau disalahkan atas apa yang dilakukannya, karena apa yang dia perbuat adalah bentuk pembelaan diri.
Sesampainya di kantor polisi, dia menitipkan kepala Markus di sebuah kedai, kemudian dia masuk ke dalam ruangan untuk melaporkan kejadian menimpa dirinya. Bukan pelayanan yang baik yang dia dapatkan, para aparat tersebut malah sibuk dengan kegiatan rekreasi mereka sendiri, sementara Marlina terus menunggu.
Sewaktu dia melaporkan kejadian perampokan dan pemerkosaan, polisi yang bertugas terlihat tidak memiliki simpati sedikit pun terhadap apa yang menimpa diri Marlina. Sungguh ironis sekali.
Diskriminasi tak hanya menimpa Marlina, temannya Novi (Dea Panendra) yang sudah mengandung selama 10 bulan namun tak juga melahirkan. Kurangnya akses kesehatan dan informasi mengenai kehamilan membuat suami dan keluarganya menyalahkan dirinya karena anaknya tak kunjung lahir.
Suami Novi percaya, anak tersebut tak kunjung lahir karena sungsang akibat ibunya berselingkuh. Sekeras apa pun Novi meyakinkan suaminya bahwa dia tidak berselingkuh dan anak yang dikandungnya tak sungsang, suaminya tetap tak percaya malah menghajar dan menyalahkan Novi.
Film ini menghadirkan ironi kemanusiaan tentang perempuan yang mencari keadilan. Sutradara Mouly Surya berhasil mengaduk-adek emosi penonton dari awal sampai akhir film ini. Ide cerita film ini dari Garin Nugroho memang brilian, yang kemudian skenarionya dikerjakan Mouly bersama Rama Adi. Film produksi kerja sama Indonesia, Perancis, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Didanai oleh Yayasan Cinemas du Monde, Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan dan Kementerian Luar Negeri Prancis.
Gambar film ini sangat menawan dengan cahaya-cahaya alami. Matahari, lampu petromaks, api tungku, menghasilkan gambar-gambar yang bergaung kuat oleh emosi cerita.
Tak hanya menyadarkan kita tentang beratnya beban yang harus dialami oleh perempuan, film ini juga menyajikan tentang lanskap Sumba yang jarang terekspos dalam film Indonesia.
Film ini telah melanglangbuana di berbagai festival internasional dan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 16 November 2017. Sebuah film dengan genre dan cerita yang segar dalam dunia perfilman Indonesia.