Petani Palas Minta Normalisasi Sungai Way Pisang
LAMPUNG – Sedimentasi atau pendangkalan Sungai Way Pisang yang melintasi Kecamatan Palas mulai dikeluhkan oleh masyarakat Desa Palas Pasemah, Desa Palas Jaya, dan Desa Bandanhurip yang sebagian besar masyarakatnya tergantung pada aliran sungai tersebut untuk kebutuhan pengairan budidaya ikan air tawar dan pertanian sawah.
Agus, salah satu petani di desa Bandanhurip menyebut, pendangkalan sungai disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi sejak bulan September silam membawa material lumpur dan sampah yang menumpuk di dasar sungai.
Pendangkalan tersebut diakuinya mengakibatkan pertumbuhan jenis tanaman gulma air seperti enceng gondok, pandan air, talas air serta rumput liar tumbuh subur. Semakin memperparah sedimentasi sungai yang lebarnya bisa mencapai belasan meter dan kini semakin menyempit. Pada bagian saluran pintu air pembagi dengan beberapa di antaranya digerakkan menggunakan penggerak dari besi. Tepat di dekat patung pak tani yang kini sebagian terhalangi oleh tanaman air.

Kekhawatiran warga akan curah hujan yang tinggi bisa berimbas luapan sungai melanda perumahan warga di bantaran sungai Way Pisang akibat belum dilakukan pengerukan atau pendalaman aliran sungai. Dikhawatirkan bisa menyulitkan warga yang akan melakukan masa tanam pertama (MT1) pada bulan Oktober hingga bulan Maret mendatang. Dua pintu air yang sekaligus berfungsi sebagai akses jalan raya penghubung tanggul dari Kecamatan Palas menuju Kecamatan Sragi diakuinya juga kerap tersumbat oleh material sampah yang terbawa dari aliran sungai di bagian hulu.
Ia memastikan, total area yang kini ditumbuhi oleh tanaman air sekaligus mengganggu saluran air yang dibangun pada era Presiden Soeharto tersebut. Area itu lebih dari 1000 meter tersebar di beberapa titik di antaranya dibatasi titik pintu air yang mengarah ke timur dan pintu air yang menuju ke arah selatan, meski beberapa petugas kerap membersihkan. Namun akibat perkembangan rumput liar yang sangat cepat berimbas pintu air dipenuhi dengan tumbuhan air dampak dari sedimentasi.

“Pengalaman tahun sebelumnya, dampak dari debit air yang sangat banyak ditambah sedimentasi sungai yang parah berimbas hamparan persawahan yang memasuki masa tanam diterjang banjir karena sungai sudah tak bisa menampung air yang menuju ke Way Sekampung,” bebernya.
Kondisi air yang meluap diakuinya bisa semakin diperparah dengan kondisi saat ini dengan adanya banjir dari aliran sungai Way Sekampung yang mengalir dari kabupaten Pringsewu dan Pesawaran serta Lampung Timur ditambah dengan kondisi air laut pasang, aliran air dari sungai Way Pisang. Berpotensi melimpah akibat banjir rob dimana air sungai kembali terdorong masuk ke sungai oleh air laut.
“Antisipasi dari pihak terkait seharusnya sudah dilakukan sejak sekarang dengan penyiapan talud atau pengerukan sedimentasi sungai menggunakan alat berat. Tapi saat ini kondisi sungai masih dipenuhi tumbuhan air,” beber Warid.
Sebagian petani yang selesai melakukan panen masa gadu di wilayah Palas bahkan diakui Warid masih menunggu pelaksanaan masa tanam serempak. Tujuannya agar proses pengolahan lahan bisa dilakukan secara bersamaan. Termasuk penanganan hama sekaligus antisipasi saat terjadi kondisi limpasan air dari sungai Way Pisang. Beberapa pintu air dengan pemutar ulir yang dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum sebagian sudah diperbaiki agar saat terjadi kondisi air meluap pembukaan atau penutupan pintu air bisa dengan mudah dilakukan.