MAUMERE – Upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan atau perencanaan dalam kehidupan berumah tangga terkait soal memiliki anak sangat penting. Khususnya mengatur jarak kelahiran anak agar orang tua bisa menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.
“Memiliki dua anak itu sudah cukup, baik laki-laki maupun perempuaan sama saja dan semua itu harus disiapkan. Sebab hal ini berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak serta masa depan anak,” sebut Pius Lustrilanang, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, saat sosialisasi program Keluarga Berencana (KB) bersama Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sikka serta BKKBN Provinsi NTT di kelurahan Kota Baru Maumere, Jumat (17/11/2017) sore. Pius berkali-kali menekankan soal merencanakan kelahiran dan memiliki dua anak sudah cukup.

“Kita harus mengendalikan jumlah penduduk agar bisa tumbuh dan berkembang dengan seimbang. Sebab semakin banyak jumlah penduduk pemerintah juga kesulitan memberikan dana untuk membantu kebutuhan masyarakat seperti soal pendidikan,” tegasnya.
Kemisikinan, tandas Pius, kadang-kadang berbanding lurus dengan jumlah anak dalam keluarga. Pihaknya akan terus mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak lagi memiliki keluarga besar dengan jumlah anak lebih dari dua.
“Budaya di NTT membuat orang menganggap penting memiliki anak laki-laki. Tapi kenyataannya setelah memiliki anak laki-laki ternyata ada keingiunan memiliki anak lagi sehingga sebuah keluarga akhirnya memiliki anak lebih dari tiga orang,” ungkap anggota DPR Fraksi partai Gerindra ini.
Pius menambahkan, pihaknya akan terus bekerja sama dengan BKKBN dan Dinas Kesehatan di kabupaten dan provinsi NTT agar mendorong terus generasi muda untuk merencanakan masa depan. Kapan harus menikah, kapan harus bekerja dan kapan harus memiliki anak.
Sementara itu, wakil bupati Sikka Drs. Paolus Nong Susar menegaskan, dari jumlah penduduk 346 ribu, jumlah penduduk usia produktif yang menghasilkan pendapatan dan hidup sehat mulai menurun akibat adanya pernikahan dini lalu hidup bersama orang tuanya.
Kenyataannya saat ini saja, kata Nong Susar, banyak anak muda yang sesudah menikah hidup menumpang dengan orang tua dan tidak bekerja sehingga membebani orang tua. Padahal usianya sudah tidak produktif. Seharusnya anak yang sudah menikah bekerja membiayai keluarga.
“Ini yang membuat kita di Kabupaten Sikka selalu mensosialisasikan pentingnya keluarga berencana. Ini juga berkaitan dengan kesehatan. Orang tua yang tidak memiliki penghasilan tentu tidak bisa menyiapkan makanan bergizi bagi anak agar tumbuh sehat dan bisa menempuh pendidikan dengan baik,” pungkasnya.