Pengeringan Kopra di Lampung Terkendala Hujan

LAMPUNG – Produksi kopra di Lampung mulai mengalami gangguan cuaca sehingga proses produksinya terkendala. Kegiatan menjemur bahan bahan baku pembuatan minyak goreng kelapa kopra atau refined bleached deodorized (RBD) coconut oil tersebut mengandalkan panas matahari.

Sementara masim hujan yang sudah mulai datang menyebabkan, proses penjemuran tidak bisa berjalan dengan optimal. Kesulitan menjemur tersebut sudah mulai dirasakan seminggu terakhir. “Sepekan terakhir kesulitan menjemur kopra akibat hujan yang kerap turun berupa gerimis hingga hujan deras,” ujar salah satu pebisnis jual beli kelapa Suhadi, Selasa (7/11/2017).

Bahan baku kelapa untuk pembuatan kopra selama ini dibeli dari petani penanam kelapa di wilayah kecamatan Katibung,Palas,Ketapang Rajabasa hingga Bakauheni dan dijual dalam bentuk butiran ke wilayah Jakarta dan Banten. Sebelum dikirim melalui Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni kelapa melewati proses penyortiran.

Kelapa yang dibeli dari petani disortir lagi berdasarkan ukuran yakni super, sedang hingga kecil atau asalan. Kepala yang tidak lolos sortir dimanfaatkan  untuk untuk dijadikan kopra melalui proses penjemuran secara tradisional menggunakan panas matahari. Kondisi panas yang memadai diakuinya sangat menguntungkan pembuat kopra semenjak bulan Juni hingga bulan Agustus.

Semenjak bulan September hingga November ia mengaku proses penjemuran menggunakan sinar matahari sulit dilakukan karena panas tidak maksimal sehingga terpaksa menggunakan sistem penggarangan atau pengasapan. “Penggarangan berlangsung selama hampir lima hari menyesuaikan jumlah kelapa yang akan dikopra. Sementara dengan panas matahari maksimal bisa kering menjadi kopra hanya selama tiga hari,” tambah Suhadi.

Kelapa yang tidak kering maksimal menjadi sulit untuk dilepaskan dari batok-nya. “Beberapa pekan ini saat siang hari juga kerap hujan imbasnya pengeringan dan pencungkilan lebih terhambat bahkan terpaksa harus mempergunakan batok dan serabut kelapa untuk pengasapan,” ujar salah satu pekerja pembuatan kopra Suminto.

Batok kelapa dan serabut yang biasanya dijual permobil seharga Rp50.000 sebagai bahan baku pembuatan arang, kini hanya dipergunakan untuk keperluan penggarangan. Akibatnya saat ini penghasilan sampingan yang biasa didapat hanyalah dari limbah limbah air kelapa. Air kelapa dijual sebagai bahan baku pembuatan nata de coco atau agar agar dari air kelapa dengan harga Rp2.500 per 15 liter.

Lihat juga...