PANZHOU – Indonesia menyiapkan strategi baru di bidang perekonomian global pascapertemuan Presiden China, Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Beijing pada 8-10 November 2017.
“Tentunya kita harus bangun strategi baru dengan China, bahkan ASEAN dan beberapa negara, seperti India dan Rusia,” kata Sekretaris Ketiga Bidang Ekonomi Kedutaan Besar RI di Beijing, Evan Pujonggo, di Kota Panzhou, Provinsi Guizhou, China, Sabtu (11/11/2017).
Menurut dia, selain harus bisa memanfaatkan berbagai peluang, Indonesia juga harus mengantisipasi hal terburuk hubungan China-AS ke depan. “Ada peluang bagi kita, karena China sedang khawatir terhadap AS,” katanya saat ditemui di sela-sela Forum Tuole: Kerja Sama China-ASEAN untuk Peningkatan Kapasitas Produksi itu.
Namun, Indonesia juga harus bisa mengantisipasi beberapa kebijakan AS yang sifatnya justru berdampak buruk bagi perekonomian global. “Kalau AS sampai mengeluarkan kebijakan, seperti menarik investasi dan segala macam karena investasi AS di mana-mana, maka kejadiannya bisa seperti pada 1997. Yang jadi korban negara-negara Asia,” ujarnya, mengingatkan.
Meskipun demikian, Evan melihat sisi positif pertemuan tiga hari Xi-Trump di Beijing yang penuh suasana kekeluargaan tersebut. “Apalagi, Trump sekarang sebenarnya sedang berupaya mendorong China untuk mencoba menyeimbangkan neraca perdagangannya dengan AS, karena AS selama ini merasa dicurangi oleh China,” kata diplomat muda asal Pasuruan, Jawa Timur, itu.
Media-media di China optimis pertemuan tersebut berdampak positif bagi masa depan kemitraan China-AS. Bahkan sebelum pertemuan kedua kepala negara digelar, China telah membuka pintu lebih lebar bagi komoditas daging sapi dari AS. (Ant)