Forum Tuole Ajang Pertemuan Pebisnis ASEAN

PANZHOU – Pemerintah Indonesia menginginkan Forum Tuole yang digelar setiap tahun di Desa Tuole, Panzhou, Provinsi Guizhou, China, menjadi wadah pemikiran bagi kelangsungan kerja sama ekonomi antara China dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN.

“Forum ini harus didorong seperti ‘Davos’-nya China. Semacam ‘think tank’ yang berkontribusi memberikan rekomendasi kerja sama ASEAN-China,” kata Sekretaris Ketiga Kedutaan Besar RI di Beijing, Evan Pujonggo, Sabtu (11/11/2017).

Diplomat muda asal Pasuruan, Jawa Timur, yang menjadi delegasi Indonesia dalam “Forum Tuole: Kerja Sama China-ASEAN untuk Peningkatan Kapasitas Produksi” itu mendorong peran aktif para pengusaha dari Indonesia.

Forum yang sudah dua kali menggelar pertemuan tersebut lebih banyak dihadiri oleh kalangan pengusaha dari China dan ASEAN. “Karena memang forum ini menginginkan peran pemerintah tidak terlalu banyak. Justru menjadi ajang pertemuan para pebisnis dan pelaku industri,” ujarnya, mengonfirmasi.

Evan melihat Forum Tuole juga berpeluang menjadi ajang penguatan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2025. “Tentu ada peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia dalam forum ini. Seperti steel (baja) kita yang sedang bermasalah dengan China, seharusnya bisa dicarikan jalan keluarnya dalam forum ini. Tapi, sayangnya tidak ada agenda pembahasan masalah steel”, ujarnya.

Meskipun demikian, masalah baja China yang mengancam industri baja nasional bisa dibahas lebih lanjut di Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Manila, Filipina, Senin (13/11).

Forum pertemuan yang digelar di desa wisata Tuole yang berjarak sekitar 300 kilometer sebelah selatan Ibu Kota Provinsi Guizhou di Guiyang itu membahas beberapa bidang, di antaranya industri pertanian, makanan, energi, pariwisata, logistik, konstruksi, arsitektur, dan investasi.

Sayangnya, tidak ada pengusaha Indonesia di bidang energi yang hadir dalam pertemuan tahun ini. Padahal, Indonesia sedang bekerja keras menawarkan proyek energi di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara.

Demikian pula dalam bidang pariwisata, Indonesia juga absen. Forum Tuole telah menyepakati tiga poin utama pengembangan industri pariwisata pegunungan di kawasan China-ASEAN.

“Mungkin karena kita belum fokus pada mountain tourism (pariwisata pegunungan). Presiden Joko Widodo memang sedang giat-giatnya mendorong pengembangan pariwisata danau. Kalau wisata pantai, kita jauh lebih unggul,” kata Evan. (Ant)

Lihat juga...