LEBAK – Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Lebak, Banten, mendorong produksi hasil kerajinan usaha kecil dan menengah (UKM) menjadikan cikal bakal koperasi, sehingga bisa menggulirkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap, semua pelaku UKM tergabung dalam lembaga koperasi,” kata Ketua Dekopinda Kabupaten Lebak, Lita Mulyati di Lebak, Minggu (5/11/2017).
Selama ini, pemahaman koperasi di masyarakat masih kurang, sehingga berdampak terhadap ekonomi daerah. Padahal, lembaga koperasi menyumbangkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan bisa mengatasi kemiskinan serta pengangguran.
Karena itu, pihaknya terus mengoptimalkan pembinaan dan sosialisasi kepada pelaku UKM, agar tingkat pemahaman lembaga koperasi dapat dipahami masyarakat. Selain itu, juga meningkatkan sumber daya manusia (SDM) lembaga koperasi, agar menjadikan kekuatan ekonomi berbasis kerakyatan.
Pelaku UKM Kabupaten Lebak sangat berpeluang besar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dekopinda juga mengapresiasi produksi UKM Kabupaten Lebak menembus pasar domestik maupun mancanegara. Bahkan, produksi UKM yang membanjiri pasar domestik itu antara lain aneka makanan camilan, seperti keripik pisang, sale pisang, talas pisang, kerupuk emping juga makanan tradisional.
Begitu juga kerajinan abon ikan produksi UKM ‘Bu Bedah’ sudah masuk ke pasar supermarket. “Kami minta pelaku UKM terus meningkatkan kualitas produksi, sehingga mampu berdaya saing di pasaran,” katanya.
Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kabupaten Lebak, Asep Wahyudin, mengatakan pertumbuhan lembaga koperasi di daerah ini berkembang pesat di 28 kecamatan.
Perguliran dana hingga mencapai Rp255 miliar dari 791 unit dengan anggotanya sebanyak 85.347 orang. Mereka lembaga koperasi tersebut bergerak di berbagai bidang usaha, antara lain kerajinan tangan, anyaman bambu dan makanan olahan tradisional.
Mereka para pelaku usaha itu dengan nilai investasi modal antara Rp5-Rp10 juta. “Kami berharap koperasi itu menjadikan kekuatan ekonomi masyarakat, sekaligus dapat menciptakan lembaga keuangan untuk meningkatkan pengembangan usaha,” jelasnya.
Sementara itu, Upah (50), pelaku UKM kerajinan krupuk kulit di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengaku cukup terbantu dengan bergabung dengan koperasi, karena bahan baku maupun pemasaran dapat ditampung oleh koperasi tersebut.
Saat ini, dirinya memiliki tenaga kerja sebanyak 30 orang dengan pendapatan rata-rata Rp70 ribu per hari. Mereka para pekerja itu terdiri atas pembuatan produksi, penggorengan, dan pengepakan. “Kami hingga kini masih bertahan memproduksi kerupuk kulit setelah bergabung dengan koperasi UKM itu,” katanya. (Ant)