Usaha Batik Sumbar Tidak Menjadi Prioritas
PADANG — Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Sumatera Barat (Sumbar) Zirma Yusri mengaku usaha batik di Sumbar tidak sebesar usaha batik yang ada di Pulau Jawa. Usaha batik yang ada saat ini tidak menjadi prioritas Dinas Koperasi dan UMKM.
Ia menjelaskan, di Sumbar daerah-daerah yang masih menjalankan usaha batik yakni di Kota Padang, Solok, Sijunjung, Pesisir Selatan, dan Kabupaten Dharmasraya. Namun, meski tidak bagitu banyak usaha batik di sejumlah daerah di Sumbar itu, corak dan hasil batik Sumbar terbilang cukup bagus, terutama ukiran batik rumah bagonjong.
“Kita memang tidak begitu mengedapankan batik di Sumbar ini, karena di daerah lain terutama di Jawa sudah banyak yang melahirkan batik-batik dengan kualitas yang sudah terbilang internasional. Tapi, yang perlu kita terus prioritaskan ialah tenun atau songket. Karena potensinya cukup besar, apalagi songket di Sumbar ini sudah terkenal,” katanya, Selasa (3/10/2017).
Zirma mengakui, kendati usaha batik di Sumbar tidak menjadi prioritas untuk dikembangkan, akan tetapi pelatihan dan pembinaan terhadap pelaku usaha membatik tetap diberikan sesuai dengan ketentuan yang ada.
Ia tidak menampik bahwa batik-batik yang ada di Sumbar terbilang unik, sepertihalnya batik tanah liek yang ada di Kota Padang dan di Kabupaten Pesisir Selatan. Namun, mengingat batik sudah lebih dulu berkembang di daerah Pulau Jawa, menjadi alasan utama Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar tidak menjadi batik sebagai usaha di Sumbar yang harus diprioritaskan.
“Jadi maksud saya memprioritaskan itu ialah produk UMKM yang mendapat tempat promosi yang lebih diutamakan ketimbang produk yang lainnya. Meski sama-sama dipromosikan, namun yang namanya diproritaskan, akan mendapatkan promosi lebih gencar, seperti tenun atau songket,” tegasnya.
Sementara itu menyikapi pernyataan dari Dinas Koperasi dan UMKM di Sumbar itu, Ketua Posdaya Hidayah Ningsih mengatakan, anggota Posdaya Hidayah juga tengah menjalani usaha membatik yakni batik tanah liek.
Meski pihak Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar menyebutkan tidak memungkinkan dalam hal persaingan batik secara nasional, buktinya batik tanah liek yang ada di Kota Padang mampu meraih penghargaan Damandiri Award 2016.
“Saya rasa batik yang ada di Padang ini mamu menjawab keraguan dari Dinas Koperasi dan UMKM. Apalagi soal batik tanah liek, tidak semua daerah atau semua orang yang bisa membuat batik tanak liek,” tegasnya.
Ia berharap, agar pemerintah melalui Dinas Koperai dan UMKM turut memberikan perhatian kepada pelaku usaha lainnya. Meski dinilai tidak mampu bersaing secara luas, setidaknya hasil batik seperti halnya batik produk di Sumbar juga telah menjadi pakaian sejumlah instansi pemerintahan dan instansi lainnya.