LEBAK – Sejumlah petani Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mengembangkan tanaman pertanian organik, karena permintaan pasar cenderung meningkat. “Tanaman pertanian organik itu tentu cukup menguntungkan,” kata Yana (45), petani di Blok Kanaga, Desa Warunggunung, Kabupaten Lebak, Minggu (1/10/2017).
Kebanyakan petani di daerah ini mengembangkan tanaman pertanian buah-buahan dan sayur-sayuran menggunakan pupuk organik. Keunggulan pupuk organik itu kualitasnya cukup bagus dan bisa bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani.
Bahkan, saat ini pendapatan usaha pertanian organik menjadikan andalan ekonomi petani setempat. Produksi tanaman pertanian organik sangat menyehatkan dibandingkan menggunakan pupuk kimia. Penggunaan pupuk organik dari kotoran hewan ternak milik masyarakat dapat menyuburkan tanaman pertanian juga tidak menimbulkan kerusakan tanah.
“Karena itu, petani di sini memilih mengembangkan tanaman pertanian organik dibandingkan pupuk kimia. Kami mengembangkan budidaya pepaya california seluas empat hektare menggunakan pupuk organik,” katanya, menjelaskan.
Yana mengatakan, dirinya menggunakan pupuk organik itu dari kotoran limbah kambing dan kerbau dengan dilakukan fermentasi selama satu bulan. Fermentasi itu guna membunuh bakteri, sehingga pupuk organik bisa menyuburkan lahan tanaman pertanian.
Pertanian organik tersebut juga membantu program pemerintah untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia. Sebab, penggunaan pupuk kimia menghancurkan kerusakan tanah dan jika kembali ditanami pertanian tidak subur.
“Kami tidak ketergantungan pada pupuk kimia saja, namun organik sangat menguntungkan,” katanya.
Dudung (55), petani di Desa Selaraja, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, mengaku mengembangkan pertanian melon menggunakan pupuk organik dan hasilnya cukup lumayan. Saat ini, produksi melon itu bisa memenuhi permintaan Pasar Rangkasbitung, bahkan permintaan dari luar daerah juga meningkat. “Saya kira pupuk organik itu sangat menguntungkan bagi petani,” ujarnya.
Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, Itan Octarianto, juga mengajak petani agar menggembangkan pertanian organik, karena dapat meningkatkan produktivitas pangan juga tahan terhadap serangan hama.
Selain itu, juga biaya penggunaan pupuk organik relatif murah juga sangat mudah diperoleh di lingkungan masyarakat. Bahan baku pupuk organik, kata dia, hanya memanfaatkan sampah-sampah untuk dibuat kompos maupun kotoran ternak hewan, seperti sapi, kerbau, kambing, dan unggas.
Pembuatan pupuk organik begitu mudah karena Distanbun setempat sudah beberapa kali memberikan pelatihan. “Kami terus mendorong petani menggunakan pupuk organik karena bisa menyuburkan lahan pertanian juga tahan terhadap serangan hama serta tidak merusak kondisi tanah,” katanya. (Ant)