Pelajar Manfaatkan Eceng Gondok sebagai Bioethanol

PONOROGO – Siapa sangka eceng gondok yang dianggap hama oleh petani, dimanfaatkan oleh tiga orang siswi SMPN 1 Jetis sebagai bioethanol. Adalah Mar’aa Refina Robbah, Dinar Ayu Pratiwi, dan Ravynda Febyola Haidar yang menemukan ide mengolah eceng gondok.

Dari hasil penelitiannya ini, mereka berhasil menjuarai lomba karya tulis ilmiah (LKTI) IX tingkat SMP/MTs se-Jawa yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Negeri Yogyakarta pada 30 September 2017 lalu.

Ketua kelompok tim LKTI SMPN 1 Jetis, Mar’aa Refina Robbah (14) saat ditemui menjelaskan, pemilihan eceng gondok karena banyaknya populasi tanaman bernama latin Eichhornia crassipes di desanya.

“Terus kami mencari informasi kandungan eceng gondok dari berbagai jurnal ilmiah,” jelasnya kepada Cendana News, Rabu (25/10/2017).

Usai dilakukan pencarian, ternyata eceng gondok mengandung bioethanol yang bisa dimanfaatkan sebagai energi terbarukan. Ketiga siswi kelas IX ini membagikan cara mengolah eceng gondok, yakni eceng gondok seberat 10 kg dimasukkan ember dan kemudian diberi air 3 liter serta diberi ragi sebanyak 100 gram. Lalu difermentasikan dan dibiarkan selama 14 hari.

“Itu untuk mendapatkan bioethanol gel,” cakapnya.

Setelah 14 hari didiamkan, kemudian air hasil fermentasi didestilasi menggunakan alat khusus. Air bioethanol dari eceng gondok itu pun jadi. Kemudian air bioethanol dicampur metil selulosa dan beberapa bahan kimia lainnya.

“Dari 10 kg eceng gondok dihasilkan 200 ml bioethanol,” terangnya.

Dengan bioethanol sekitar 200 ml ini bisa untuk memasak sekitar 2 jam penuh dan api yang dihasilkan pun besar. Penemuan ini dinilai bermanfaat hanya dengan mengolah bahan yang ada di sekitar.

“Tidak hanya untuk bioethanol, eceng gondok juga bisa dimanfaatkan sebagai tenaga baterai,” tuturnya.

Cara yang dilakukan yaitu eceng gondok tersebut dihaluskan. Kemudian eceng gondok dimasukkan di dalam wadah baterai bekas. Daya yang dihasilkan cukup besar yaitu untuk eceng gondok basah sebesar 2,4 volt dan eceng gondok kering 3,6 volt.

Guru pendamping tim LKTI SMPN 1 Jetis, Siti Nur Wahidah menambahkan, pihaknya bangga dengan juara yang ditorehkan anak didiknya. SMPN 1 Jetis mengirimkan enam proposal dan yang masuk 10 nominasi empat proposal.

“Dua proposal dapat juara. Juara pertama bioethanol eceng gondok dan juara kedua inovasi poca liparin yang juga dari SMPN 1 Jetis,” pungkasnya.

Hasil temuan inovatif para siswa SMPN 1 Jetis/Foto: Charolin Pebrianti
Lihat juga...