Pasca-Nobar, Lubang Buaya Dikunjungi Ribuan Orang

JAKARTA – Usai Presiden Joko Widodo dan para petinggi negara meninggalkan area Monumen Pancasila, Lubang Buaya Jakarta Timur, setelah memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Sabtu (1/10/2017), para pengunjung yang sedari pagi sabar menunggu giliran masuk ke  kompleks memorial seluas 14,6 hektare tersebut, akhirnya bisa leluasa berwisata sambil belajar sejarah.

Anwar, warga Brebes saat berkunjung ke Monumen Pancasila, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (1/10/2017). -Foto: Sri Sugiarti

Siang itu, area Monumen Pancasila dipenuhi lautan manusia. Mereka tidak hanya dari Jakarta, tapi juga dari luar kota. Salah satunya, Anwar, pria asal Brebes, Jawa Tengah. Pria berusia 66 tahun ini mengaku sengaja datang ke Jakarta dengan naik bus, tapi terlebih dulu ke Tanah Abang. Lalu, pukul 06.00 WIB, dilanjutkan ke  Pondok Gede dengan naik angkot dari Kampung Rambutan, dan turun di depan Monumen Pancasila.

“Saya berangkat dari Breses jam 01.00 dini hari, setelah nonton bareng film G30S-PKI di lingkungan rumah saya di kampung. Tapi, saya ke Tanah Abang dulu, baru ke sini nyampe tadi pukul 7.30 WIB,” kata Anwar, kepada Cendana News, ditemui di area Monumen Pancasila, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (1/10/2017).

Awar mengaku jengkel, karena tadi menunggu lama di luar gerbang. Dan, informasi yang didapat dari aparat penjaga, hari ini Lubang Buaya ditutup, pengunjung tidak boleh masuk karena ada Presiden Jokowi sedang upacara peringatan Kesaktian Pancasila.

“Saya sempat kecewa. Alhamdulilah, saya boleh masuk, dan rasa penasaran saya terobati bisa lihat sumurnya langsung. Subhanaallah, ini sejarah kelam jangan terulang lagi,”  ungkap Anwar, yang mengaku baru pertama kali ke Lubang Buaya ini.

Dirinya mengaku, saat peristiwa para jenderal diculik dan dibunuh oleh gerombolan Partai Komunis Indonesia (PKI), ia masih usia 14 tahun. Ketika itu, Anwar sedang mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat(SR) di Brebes.

Menurutnya, informasi peristiwa pengkhianatan G30S PKI menggelora hingga ke daerahnya. Untung saja, kata dia, peristiwa kelam bangsa ini kemudian difilmkan, hingga dirinya bisa nonton tayangannya di TVRI, setiap 30 September.

Namun, sejak film itu dilarang diputarkan pada 1998, Anwar tidak pernah nonton lagi film tersebut.”Alhamdulilah film G30S-PKI diputar lagi, saya tadi malam nonton bareng, dan penasaran hingga akhirnya saya datang ke sini seorang diri,” ujarnya.

Setelah melihat fakta sejarah bangsa yang tergambar nyata di area Monumen Pancasila, Anwar mengaku sangat bangga kepada para pahlawan bangsa yang telah berjuang dengan darah dan air mata.

“Saya sudah tua, nggak penasaran datang ke sini, lebih paham sejarah karena selama ini cuma lihat di tv,” ujarnya.

Selain Anwar, adalah Nurasia (40),  warga Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Dia mengaku sengaja datang ke Lubang Buaya dengan mengajak putri bungsungnya, Nabila, siswi kelas 5 SDN 05 Jatiasih. “Kebetulan hari libur, ini juga hari Kesaktian Pancasila. Saya ajak anak ke sini, tidak sekedar jalan-jalan, tapi biar dia belajar sejarah bangsa,” kata Nurasia kepada Cendana News.

Maklum, kata dia, pelajaran sejarah yang didapat anaknya di sekolah sangat minim sekali tentang sejarah pahlawan revolusi Indonesia yang gugur atas penghianatan PKI. Dengan datang ke Lubang Buaya, Nurasia berharap wawasan sejarah anaknya tentang perjuangan para pahlawan semakin luas.

Karena, menurutnya, kerap kali anaknya itu bertanya tentang peristiwa G30S-PKI, mengingat informasi yang didapat di sekolahnya masih minim. “Kalau datang ke sini kan dia jadi tahu kalau para pahlawan itu disiksa, dimasuki sumur. Penuh perjuangan cucuran darah membangun bangsa ini. Dan, apa yang dia lihat hari ini adalah fakta sejarah bangsa,” ujarnya.

Nurasia mengaku, bersama anaknya sudah melihat dapur umum para pemberontak PKI, juga pos komando, rumah penyiksaan para pahlawan, dan sumur tempat mengubur pahlawan.

Nabila pun merasa bangga dengan pahlawan revolusi yang telah berjuang hingga tewas ditangan kejinya pemberontak.

Ia mengaku, cerita tentang sejarah peristiwa G30S PKI yang didapatkan dari sekolahnya sangatlah berbeda dengan apa yang dilihatnya langsung di Lubang Buaya. “Kalau cerita  sejarah dari sekolah, tidak dikasih tahu penyiksaan para jenderal. Setelah lihat langsung ke sini, saya jadi tahu sebenarnya,” ujar Nabila.

Dirinya mengaku kecewa karena pengetahuan sejarah tentang peristiwa itu yang didapat dari sekolah hanya sedikit. Dia berharap, ke depan sekolahnya mengajak siswanya berkunjung ke monumen ini sehingga bisa tahu sejarah bangsa. “Apa yang saya lihat hari ini, akan diceritakan pada teman-teman, berbagi ilmu,” ujar Nabila.

Warga Menteng, Jakarta Pusat, Yati (50), mengaku setelah nonton bareng film G30S-PKI di wilayahnya, merasa penasaran untuk melihat langsung sejarah kelam bangsa Indonesia. Yati pun akhirnya datang ke Lubang Buaya bersama anak dan cucunya. Apalagi, informasi yang dia dapat, masuk Monumen Pancasila, tanggal 1 Oktober 2017 ini, gratis.

Dia pun bergeges pukul 06.00 WIB dari rumahnya di Menteng, dan tiba di Lubang Buaya pukul 08.00 WIB. “Saya penasaran setelah tadi malam nobar, dan dengar cerita langsung dari saksi pengangkut jenazah para pahlawan di sumur Lubang Buaya,” kata Yati.

Yati bersyukur, bisa berkunjung ke monumen ini,meskipun waktu di gerbang depan sempat dilarang masuk oleh aparat. Dengan alasan setiap peringatan Hari Kesaktian Pancasila, di tutup.

Salah satu petugas monumen yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, setiap 1 Oktober peringatan Hari Kesaktian Pancasila, area ini selalu dibuka untuk umum secara gratis.

Namun, kata dia, dibukanya setelah Presiden Jokowi dan para pejabat tinggi negara serta undangan pulang. Baru kemudian pengunjung boleh masuk area. “Pengunjung tahun ini lebih banyak dari tahun kemarin. Ini mungkin karena dampak nobar, banyak warga yang penasaran ini melihat langsung peristiwa sejarah itu,” pungkasnya.

Lihat juga...