Pak Dirman Pernah Singgah di Rumah Mbah Ginut
PONOROGO – Jenderal Soedirman ternyata pernah singgah di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Ponorogo, tepatnya di rumah milik Ginut, antara Desember 1948 – Juli 1949. Perkiraan ini sesuai dengan kondisi saat itu, Jenderal Soedirman atau yang akrab dipanggil Pak Dirman memang tengah memimpin perang gerilya.
Saksi hidup sekaligus putri Ginut, Nyamir (72), mengatakan saat itu ia masih berusia 4 tahun, namun bisa mengingat jelas kejadian itu. “Waktu itu ada orang yang ingin menemui Ginut, tidak tahunya ternyata pengawal Jenderal yang ingin mencari tempat,” jelasnya, saat ditemui Cendana News, Minggu (29/10/2017).
Ternyata, nama pengawal tersebut Putih, yang meminta izin mencari tempat penginapan untuk temannya yang sakit dan berita ini tidak boleh disebar. Sempat terjadi adu pendapat antara Ginut dan ibundanya, apakah menerima orang sakit itu atau tidak. Ditakutkan orang yang sakit itu nantinya meninggal di kediaman Ginut.

Namun, karena kegigihan Ginut ingin menolong orang tersebut, akhirnya diperbolehkan. Tak lama, datang rombongan beserta tandu yang membawa orang sakit tersebut. Usai masuk ke dalam rumah, orang sakit itu pun bercerita tentang siapa dirinya kepada Ginut.
“Alangkah kagetnya Ginut, ternyata orang sakit tersebut adalah Jenderal Soedirman,” paparnya.
Menurut Putih, ia sebelumnya meminta pertolongan kepada Kamituwo Dimin, namun tak diizinkan, akhirnya rombongan mencari tempat penginapan lain. Beruntung, keluarga Ginut mau menerimanya.
“Saat itu Ginut menjabat sebagai Kebayan Desa Ngindeng,” tuturnya.
Usai diterima dengan baik, Jenderal Soedirman pun bercerita kalau dirinya tengah memimpin perang gerilya dari Pulung kemudian ke Ngindeng.
Namun, ada yang menarik saat melayani tempat istirahat Jenderal Soedirman. Ia tidak mau lampu menyala terang, harus redup. Agar tidak diketahui jika tempat Ginut sedang ramai banyak orang, pasukan dari Jenderal Soedirman.
“Beliau pun juga meminta tempat tidurnya diletakkan di sebelah tenggara dan menggunakan tempat tidur dari bambu atau lincak,” ujarnya.
Selain itu, permintaan lainnya, ia ingin sekeliling tempat tidurnya ditutupi rono pring atau pembatas yang tinggi agar tidak kelihatan. Paginya, Jenderal Soedirman beserta puluhan prajuritnya disuguhi hidangan khas Ngindeng.
“Usai makan, rombongan lalu mohon izin melanjutkan perjalanan ke Trenggalek,” tukasnya.
Benda bekas Jenderal Soedirman hingga saat ini masih dirawat apik oleh Nyamir. Ia pun sering kedatangan tamu baik dari Angkatan Darat maupun masyarakat lainnya yang mengetahui tempat persinggahan ini.
“Saya berharap, ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo terkait peninggalan ini supaya bisa terjaga dengan baik dan menjadi wisata sejarah bagi generasi penerus,” pungkasnya.