Kolonel Jamallulael: Tendean Contoh Sikap Rela Berkorban
BOGOR – Keganasan Gerakan 30 September/PKI menewaskan enam perwira tinggi di jajaran TNI-AD, dan seorang perwira pertama yang menjadi ajudan dari Jenderal Abdul Harris Nasution, saat itu, yakni Kapten Anumerta (CZI) Tendean.
Kapten Anumerta (CZI) Tendean adalah seorang perwira pertama yang menjabat sebagai pengawal Jenderal Abdul Haris Nasution, yang rela mengorbankan diri tidak hanya demi keselamatan Jenderal Abdul Haris, lebih dari itu Kapten Tendean melakukan pengorbanan untuk bangsanya, demi keutuhan bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Terkait fakta sejarah tersebut, Komandan PUSDIKZI, Kolonel (Czi) Jamallulael, S.Sos, M.Si., mengaku bangga, karena ada satu perwira pertama korps Zeni yang menjadi pahlawan revolusi. Dirinya mengatakan, ada satu sikap yang harus dicontoh dari tindakan Kapten Anumerta Piere Tendean, yaitu sikap patriotisme dan rela berkorban demi keutuhan bangsa dan negara.
Pria lulusan Akademi Militer tahun 1991 ini menirukan apa yang dikatakan oleh Kapten Tendean puluhan tahun silam, “Itu merupakan satu contoh patriotisme, dan rela berkorban”. Sebagai bawahan, Tendean sudah mengambil keputusan yang tepat.
Dengan mengaku sebagai Jenderal Nasution, beliau sudah mengambil langkah yang berani mengorbankan diri demi keutuhan bangsa dan Negara. Tendean tidak lagi memikirkan keselamatan diri-sendiri. Kapten Tendean sudah tahu, bahwa jika dia mengaku akan menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri.
“Jelas karena saat itu sudah ditodong senjata dari segala sisi. Pemikiran seperti kapten Tendean merupakan pikiran yang sangat mahal”, papar Jamall, saat ditemui usai upacara Hari Kesaktian Pancasila di Pusat Pendidikan Zeni TNI-AD (PUSDIKZI), Minggu (1/10/2017).
Setelah Kapten Tendean mengaku sebagai Jenderal Nasution, tentu kelompok PKI tidak lagi mencari Jenderal Nasution. “Lain cerita kalau waktu itu Kapten Tendean mengaku, bahwa beliau adalah ajudannya, mungkin saat itu Jenderal Nasution tidak bisa melakukan konsolidasi ke satuan-satuan di Angkatan Darat, dan Gerakan 30 September bisa jadi berhasil”, katanya.
Orang nomor satu di Pusdikzi itu menjelaskan, sikap-sikap tersebut yang harus dihidupi dalam diri setiap anak muda penerus bangsa. Dengan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Lebih lanjut lagi, Jamall menekankan, bahwa setiap generasi muda penerus bangsa, personel TNI, khususnya prajurit Korps Zeni, harus bisa menjadi Tendean-Tendean zaman sekarang. “Memang tidak bisa seperti Kapten Tendean dulu, karena tidak sesuai dengan konteks yang terjadi di masyarakat saat ini”, paparnya, seraya mengatakan, bahwa harus bisa meniru sikap rela berkorban, berani, dan bisa mengambil keputusan yang tepat untuk lebih besar.
“Hal yang lebih besar yaitu kepentingan bersama, kepentingan bangsa dan negara”, katanya.
Kapten (Czi) Anumerta Pierre Andreas Tendean tidak hanya menjadi pengawal Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, tapi juga menjadi tameng supaya Jenderal Besar Nasution tidak menjadi korban dari kebiadaban Gerakan 30 September. Hal inilah yang harus ditiru oleh setiap prajurit, untuk melindungi masyarakat, bangsa dan negara.