Baznas Bantu Korban Ledakan Pabrik Kosambi

JAKARTA — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) turut serta dalam membantu korban ledakan pabrik petasan di Kompleks Pergudangan 99, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten.

“Setiap informasi kami respon dengan kaji cepat terlebih dahulu. Jika kaji awal cepat menunjukkan ‘stakeholder’ penanggulangan bencana setempat mampu menangani, BTB bersiaga memonitor perkembangan saja. Tapi bila mendesak, BTB ikut ambil bagian,” kata Kepala Baznas Tanggap Bencana (BTB) Ahmad Fikri.

Baca juga: Tim DVI Identifikasi Satu Jenazah Korban Ledakan Pabrik Petasan

Lewat keterangan tertulisnya, yang diterima, Jumat (27/10/2017), dia mengatakan Baznas mengerahkan ambulans untuk membantu korban ledakan pabrik petasan.

Sementara itu, Fikri mengatakan pihaknya terus berupaya membantu masyarakat korban bencana dan juga memberdayakan masyarakat, termasuk kepada kaum marjinal.

Fikri yang juga Pimpinan Layanan Aktif Baznas (LAB) mencontohkan pihaknya baru saja membangun jembatan yang menghubungkan Desa Simpang Garut dengan Desa Cempakasari, Tasikmalaya, Jawa Barat dan Jembatan Kasaba Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Banten.

Pada 18 Oktober, dia mengatakan LAB mendapatkan informasi melalui media sosial terkait laporan kerusakan jembatan yang sudah usang oleh Kepala Desa Simpang Garut.

“Tim LAB langsung merespon dan pada 19 Oktober mendatangi lokasi dan mengecek kondisi jembatan yang ternyata mengenaskan dan membahayakan warga. Pada malam harinya kami bermusyawarah dengan perangkat dari desa, kelurahan dan kecamatan,” ujarnya.

Pada 20 Oktober, kata dia, tim LAB mengoordinasi warga untuk berbelanja di kawasan Cipatujah dengan menempuh perjalanan selama 10 jam. Dengan bergotong royong bersama warga, dalam sepekan jembatan kelar hingga bisa dimanfaatkan oleh 4.629 jiwa dalam 1.279 kepala keluarga.

Baznas, lanjut dia, juga telah membangun Jembatan Kampung Sawah Bangkit (Kasaba) yang bisa diakses 2.600 penduduk Kampung Sawah dan Kampung Lebak Picung, Desa Sindangsari, Kabupaten Lebak, Banten. Jembatan yang dibangun di atas Sungai Ciberang itu menjadi akses satu-satunya bagi warga untuk pergi mencari nafkah, menimba ilmu dan aktivitas lainnya.

Menurut Fikri, BTB akan merespon ke lapangan jika kebutuhan hidup masyarakat terganggu. Ditambah lagi bila tim penanggulangan bencana setempat belum optimal melaksanakan tugas yang disebabkan sejumlah hal seperti kekurangan sumber daya manusia (SDM), biaya, peralatan, luas area atau warga terdampak sangat banyak.

Sementara itu, Koordinator Dakwah dan Advokasi Baznas Farid Septian mengatakan pihaknya menggencarkan kegiatan pembinaan komunitas marjinal.

“Kami berkeliling ke warga yang tinggal di kolong jembatan, jalanan dan sebagainya. Dan baru-baru ini, kami bekerja sama dengan sejumlah terminal antara lain Terminal Kampung Rambutan untuk mengadakan aktivitas dakwah,” tuturnya.

Baca juga: Kesedihan Seno Mencari Ibunya, Pekerja Pabrik Petasan Kosambi

Farid mengatakan aktivitas dakwah Baznas lewat pengajian rutin itu menyasar para pedagang, petugas kebersihan, kuli panggul, pengojek motor pangkalan serta daring dan sebagainya.

“Kami ingin mengubah citra terminal yang kerap diidentikkan dengan kriminalitas menjadi lebih humanis dan agamis. Apalagi, terminal menjadi pusat perkumpulan mustahik dari asnaf fakir, miskin dan musafir atau ibnu sabil,” katanya.[Ant]

Lihat juga...