Pengamat: NTT Potensial Jadi Daerah Produsen Jagung

KUPANG — Pengamat Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr Ir Leta Rafael Levis, M.Rur.Mnt, mengatakan Nusa Tenggara Timur potensial dijadikan daerah penyangga jagung karena memiliki lahan lahan pertanian yang cukup untuk mengembangkan tanaman hortikultura ini guna memenuhi kebutuhan akan pangan penduduk Indonesia.

“Ini bukan tidak beralasan, karena secara nasional luas tanam jagung di NTT per Desember 2016, mencapai 180.824 ha atau terluas jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Tanah Air,” katanya di Kupang, Sabtu (9/9/2017), terkait dengan keinginan Presiden Joko Widodo, agar ke depan pangan dinobatkan menjadi panglima dalam prioritas pembangunan.

“Siapa yang punya pangan, ia yang mengendalikan jalannya persaingan nasional maupun global, ketika seluruh negara akan berebut pangan, energi, dan air sehingga perlu disiapkan logistik yang memadai agar negara tidak mudah ditundukkan,” kata Presiden saat ber-orasi pada sidang terbuka dalam rangka “dies natalis” Institut Pertanian Bogor (IPB) di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor.

Sebab bagaimanapun kata Presiden, tanpa ketersedian logistik yang mencukupi, negara ini mudah dikalahkan, mudah ditundukkan karena ke depan bukan politik lagi yang jadi penglima, mungkin bukan hukum lagi yang jadi panglima tapi pangan yang menjadi panglima.

Menurut Leta Levis, potensi lahan yang dimiliki NTT untuk pengembangan jagung ini diakui Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Kementerian Pertanian Ani Andayani ketika berkunjung ke NTT beberapa waktu lalu.

Bukan cuma itu, data juga menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan Nusa Tenggara Barat sebagai provinsi tetangga dari NTT menunjukkan bahwa luas tanam jagung di daerah berbasis kepulauan ini masih cukup luas yaitu sebesar 43.940 hektar.

“Kalau jika dibandingan dengan NTB luas lahannya hanya mencapai 28.679 hektar. Artinya luas lahan tanam jangung di NTT sangat besar,” kata Ketua Penyuluh Pertanian NTT ini.

Atas dasar itu, katanya Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dibawah kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya terus berupaya mewujudkan salah satu dari enam tekad pembangunan yaitu menjadikan daerah itu sebagai provinsi jagung.

“Saat ini, pemerintah sedang membangun upaya khusus (Upsus) bersama stakeholder terkait untuk pengembangan dan pengaoptimalan lahan untuk tujuan penanaman jagung karena NTT mendapatkan dukungan yang cukup besar dari pemerintah pusat untuk mendorong pembangunan atau pengembangan jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga memberikan perhatian cukup besar untuk daerah ini, terbukti pada beberapa waktu yang lalu Mentan menghadiri panen raya jagung di wilayah perbatasan antara RI-Timor Leste di Kabupaten Belu. Bahkan Mentan juga menyerahkan bantuan berupa puluhan alat mesin pertanian (Alsintan).

“Di sana (Perbatasan) seperti di Kabupaten Malaka paling luas untuk pengembangan jagung, dan dalam waktu dekat ini akan dimulai dengan mekanisasi. Alat- alat berat sudah di drop ke sana sehingga mudah- mudahan kita melihat mekanisasi jagung di paling tidak dua kabupaten dulu, Belu dan Malaka. Saat ini untuk ukuran nasional, produksi jagung tertinggi di Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Ia mengakui produksi jagung di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus meningkat. Bahkan pada 2016, NTT berhasil menempati urutan pertama sebagai provinsi dengan produksi jagung tertinggi di Indonesia.

“Produksi jagung di 2016, ternyata NTT menempati urutan pertama tertinggi dari provinsi- provinsi lain,” kata Rafael Leta Levis.[Ant]

Lihat juga...