Efisien Bersihkan Lahan, Sistem Tebas Bakar Pilihan Petani Saat Kemarau

LAMPUNG – Musim kemarau yang melanda sebagian wilayah Lampung selain berimbas buruk bagi aktivitas pertanian dengan berkurangnya pasokan air, justru dimanfaatkan oleh sebagian petani untuk melakukan pembersihan lahan pada lahan perkebunan yang akan dipergunakan untuk penanaman berbagai jenis tanaman produktif lain saat hujan tiba.

Proses pembersihan lahan menggunakan teknik tebas bakar tersebut bahkan masih dimanfaatkan oleh masyarakat petani di wilayah Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan dan beberapa wilayah lain.

Sahrul, salah satu petani pemilik kebun seluas setengah hektar mengungkapkan, membuka lahan baru untuk keperluan penanaman jagung dilakukan dengan alasan proses pembakaran memudahkannya membersihkan lahan pada area yang luas secara cepat dan murah. Sahrul bahkan menyebut, meski harus memusnahkan beberapa tanaman lain yang tidak produktif dirinya masih menggunakan cara membakar lahan pada musim kemarau agar pembersihan lahan bisa lebih cepat selesai.

Sebagian lahan pertanian di Desa Gandri yang sudah dibersihkan dengan sistem tebas bakar. [Foto: Henk Widi]
“Selama ini para petani masih menggunakan sistem penyemprotan dengan zat-zat kimia jenis herbisida untuk memusnahkan rumput dan tanaman pengganggu saat musim hujan. Tapi saat kemarau cara pembakaran justru lebih efisien,” beber Sahrul, warga Dusun Sideder Desa Banjarmasin saat ditemui Cendana News tengah membersihkan lahan kebun yang dimilikinya, Sabtu (23/9/2017).

Proses pembakaran lahan dengan alasan efisiensi biaya tersebut, diakui Sahrul berkaitan dengan hitung-hitungan biaya yang harus dikeluarkan jika harus membeli herbisida dengan proses penyemprotan yang mengeluarkan biaya ratusan ribu. Sementara dengan proses pembakaran, dirinya hanya mengeluarkan modal membeli korek seharga Rp5 ribu.

Proses pembakaran tersebut, diakui oleh Sahrul, tidak dilakukan sembarangan. Ada tahapan proses menghimpun sampah-sampah kering untuk selanjutnya dibakar dengan tetap menunggui selama proses pembakaran. Tanpa lupa menyediakan sebuah ember berisi air yang bisa dipergunakan untuk memadamkan api jika merembet ke tanaman lain atau ke areal perkebunan milik petani lain. Selain menimbulkan belug (asap) serta material abu daun daun kering berwarna hitam, Sahrul mengaku sengaja melakukan pembakaran untuk memusnahkan tanaman kakao dan pisang yang sudah tidak produktif.

Sebanyak puluhan batang tanaman pisang dan tanaman kakao diakui Sahrul sengaja dimusnahkan akibat serangan hama kutu putih serta tupai sehingga kakao miliknya terpaksa dimusnahkan berikut tanaman pisang yang terserang hama busuk batang.

”Saya sengaja memusnahkan tanaman kakao dan pisang karena sudah tidak produktif dan rencananya akan diganti dengan tanaman jagung serta sayuran yang lebih cepat dipanen untuk dijual hasilnya dibandingkan kakao dan pisang,” beber Sahrul.

Sahrul juga mengaku dampak negatif dari pembakaran tersebut risiko kebakaran yang luas dan berbahaya. Namun dirinya mengaku sejauh ini memang belum ada larangan secara tegas terkait proses pembakaran lahan perkebunan sehingga dirinya tetap melakukan proses pembersihan dengan sistem tebas bakar dan menyediakan fasilitas pemadaman dengan air pada saat pembakaran dilakukan.

Pembersihan lahan untuk pembukaan lahan baru bagi pertanian dan perkebunan tersebut juga dilakukan petani di Desa Gandri Kecamatan Penengahan dalam proses “perun” atau pembersihan batang jagung yang sudah dihimpun di satu lokasi. Selanjutnya dimusnahkan untuk mempercepat proses pembersihan lahan.

Bejo, petani penanam jagung yang sengaja membakar sisa limbah tanaman jagung di eks perkebunan milik PT Jaka Utama di lahan register I Way Pisang yang kini digarap masyarakat mengaku, jauhnya lokasi perkebunan dari perumahan warga membuat dirinya serta sebagian besar petani di wilayah tersebut melakukan sistem tebas bakar.

“Kami meyakini setelah dibakar abunya bisa menjadi pupuk. Terutama sisa dari janggel jagung serta batang jagung dan tidak mengganggu saat proses pembajakan dengan mesin traktor,” beber Bejo.

Menurut Kepala Desa Kelaten, Joniamsyah, yang sebagian warganya memiliki lahan perkebunan jagung dan sawah serta perladangan lain menyebut, saat musim kemarau bahkan pada umumnya ketika usai masa panen, sebagian petani masih menggunakan sistem pembersihan lahan dengan membakar. Ia mengaku masih belum bisa menghentikan kebiasaan tersebut dan hanya memberikan imbauan agar saat proses pembakaran selalu ditunggui guna mencegah risiko kebakaran.

“Musim kemarau memang rentan kebakaran merembet ke lahan pertanian produktif atau bahkan membakar perumahan sehingga butuh penjagaan dan hati-hati selama membakar limbah hasil pertanian berupa jerami atau sisa limbah jagung,” ungkapnya.

Alasan lebih efisien dan murah dengan cara membakar diakui Joniamsyah masih dilakukan warga seusai masa panen. Meski secara khusus ia mengimbau selama musim kemarau petani diharapkan lebih berhati-hati saat melakukan proses pembersihan lahan sistem tebas bakar.

Joniamsyah, Kepala Desa Kelaten, ikut memberikan imbauan petani tidak menggunakan sistem tebas bakar untuk pembersihan lahan. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...