Tiga Kecamatan di Lebak Krisis Air

LEBAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten, sejak sepekan terakhir di tiga kecamatan mengalami krisis pasokan air bersih akibat kekeringan.

“Kami minta warga yang terjadi kesulitan air bersih segera melapor kepada kepala desa bersangkutan di masing-masing desa,” kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Madias di Lebak, Senin.

BPBD Lebak kini menerima laporan dari relawan bahwa tiga kecamatan mengalami krisis pasokan air bersih akibat kekeringan di daerah itu.

Ketiga kecamatan itu, yakni Desa Gunungsari Kecamatan, Banjarsari; Desa Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar dan Desa Muara, Kecamatan Wanasalam.

Namun, kata Madias, dua kecamatan yang kesulitan air bersih belum melapor kepada BPBD setempat, yakni warga Desa Gunungsari, Kecamatan Banjarsari dan Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar.

Pelaporan itu segera dipenuhi oleh aparat desa bersangkutan agar benar-benar kepala keluarga yang mengalami kesulitan air bisa menerima bantuan pasokan air bersih.

Sedangkan Desa Muara Kecamatan Wanasalam sudah ditangani pengiriman air bersih karena mereka sudah melapor kepada BPBD setempat, katanya.

Masyarakat di desa itu sudah didistribusikan air bersih sebanyak enam tangki kendaraan.

“Kami berharap dua desa itu segera melapor kepada BPBD agar mendapat pasokan air bersih,” ujarnya menjelaskan.

Menurut Madias, BPBD akan bergerak cepat untuk menyalurkan pasokan air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan.

Saat ini masyarakat Kabupaten Lebak masuk kategori daerah langganan krisis air bersih jika memasuki musim kemarau berkepanjangan.

Untuk itu, katanya, pihaknya meminta masyarakat segera melapor jumlah warga yang mengalami krisis air bersih.

“Kami menyiapkan kendaraan tangki sebanyak empat angkutan dan siap menyalurkan pasokan air bersih,” katanya.

Ujang (50) warga Desa Sangkanwangi, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak mengatakan saat ini di wilayahnya mengalami krisis air bersih karena sumber mata air, sumur dan pompa “jet pump” mengering.

Masyarakat untuk mendapatkan air bersih terpaksa membeli air Sungai Cisimeut menggunakan jasa tukang ojeg dengan jarak antara tiga sampai enam kilometer dari perkampungan.

Warga setiap hari mengeluarkan biaya tukang ojeg antara Rp10.000 sampai Rp20.000 untuk satu bak mandi berukuran 2X1,5 meter.

“Saya sudah hal biasa jika dua pekan tidak diguyur hujan dipastikan sumur mengering,” katanya.

Begitu pula warga Desa Gunungsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, saat ini kesulitan air bersih menyusul sarana MCK tidak berfungsi.

Akibat kesulitan air bersih tersebut, sebagian warga mengambil air dengan cara menggali lubang di sekitar persawahan.

Untuk keperluan konsumsi sehari-hari, mereka membeli air mineral kemasan atau galon isi ulang.

“Kami saat ini mendapat air untuk keperluan MCK dari desa lain,” kata Sarip (45) warga Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak. (Ant)

Lihat juga...