Suka Duka Mengeksiskan Pengobatan Bekam di Bali

DENPASAR — Pola hidup sehat terus digandrungi oleh sebagian masyarakat yang sadar akan pentingnya sebuah kesehatan bagi keberlangsungan hidup manusia. Berbagai cara serta alternatif pengobatan terus dicari serta dikembangkan di tengah-tengah masyarakat, salah satunya pengobatan ala islami yaitu ijamah atau cop bahasa indonesia atau bekam bajasa melayu yang hingga saat ini dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Di pulau bali, khususnya di kota Denpasar, terdapat komunitas pemerhati bekam [KPB] Bali. Komunitas yang beranggotan lima belas orang ini sudah berjalan sejak bulan Oktober 2010 lalu.

Menurut Hidayat, ketua KPB mengatakan, dalam komunitasnya bisa melakukan terapi bekam dua hingga tiga kali. Komunitas yang beranggotakan sekitar lima belas orang tersebut secara suka rela memberikan pelayanan bekam dari satu masjid ke masjid lainnya atau dari satu tempat ke tempat lain di pulau dewata Bali.

“Kami tidak mematok harga khusus dalam pelayani pasien mas, kebanyakan kami biaya sendiri serta uang operasi kami peroleh dari kotak amal yang disediakan dan itupun seikhlasnya,” ungkapnya.

Pria kelahiran Jakarta ini menjelaskan, tidak semua orang bisa menjalani terapi bekam. Ada beberapa kreteria yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang ingin menjalani terapi kesehatan yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W tersebut.

“Salah satunya harus sehat, tidak mempunyai riwatat penyakit menular seperti HIV AIDS, perempuan lagi menstruasi, serta lemah fisik,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi calon pasien yang terindikasi tidak memenuhi kreteria itu pihaknya melakukan pendekatan secara persuasif dengan terlebih dahulu menanyakan keluhan dari pasien, jika ada tanda-tandanya maka oihaknya akan menolak secara halus serta menganjurkan pengobatan secara medis.

Ketua Komunitas Pemerhati Bekam [KPB] Bali, anam Hidayat/Foto: Sultan Anshori
Tidak mudah untuk bisa terus mensyiarkan pengobatan sunnah nabi tersebut kepada masyarakat agar tetap eksis hingga sekarang. Terdapat beberapa kendala yang dihadapi baik dari internal keluarga maupun faktor di lapangan, salah satunya harus rela mengesampingkan waktu libur dengan melakukan kegiatan sosial bekam kepada masyakarat.

“Terus terang saja mas, saya dan teman-teman komunitas pemerhati bekam Bali ini setiap minggu melakukan bekam di beberapa tempat, tidak hanya di masjid atau tempat di wilayah Denpasar, kami kadang juga harus pergi keluar kota seperti Jembrana, Singaraja, Karangasem serta Tabanan,” jelasnya saat ditemui di masjid Muhammad Denpasar.

Namun demikian, hal tersebut tidak lantas membuat Hidayat patah arang, dia mencoba memberikan pengertian kepada kelaurga terutama anak-anaknya di rumah bahwa apa yang dilakukannya merupakan ibadah.

Selain itu, kendala yang dihadapi oleh komunitas ini adalah adanya pembatasan dari pihak terkait dalam hal ini dinas kesehatan mengenai pengobatan bekam ini, Karena dianggap bukan jenis pengobatan alternatif.

“Padahal dalam Islam pengobatan ini adalam pengobatan yang utama mas, Karena sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad S.A.W,” imbuhnya.

Hidayat berharap ke depannya pemerintah bisa merangkul pengobatan ini, dengan cara mengkolaborasikan pengobatan kimia Karena selama ini pengobatan bekam hanya dianggap sebagai tindakan operasi kecil.

Manfaat pengobatan bekam

Bekam merupakan pengobatan yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W dimana mempunyai beberapa manfaat untuk mengobati berbagai penyakit, salah satunya memperlancar peredaran darah, penakit asam urat, toxin, dan lain-lain. Terapi bekam sendiri adalam pengobatan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh manusia.

Alat yang digunakan untuk bekam terbilang herbal, mulai dari minyak zaitun, leansing atau jarum untuk melakai kulit agar darahnya keluar, selain itu H2O2 untuk bisa membersihkan bekas darah di alat cop itu sendiri. Menurut anjuran, bekam dianjurkan dilakukan setiap sebulan sekali.

Bekam sendiri terus mendapatkan tempat khusus bagi masyarakat di Bali secara khusus. Seperti yang ungkapkan oleh Zainuri yang mengikuti terapi bekam di masjid Muhammad di jalan Imam Bonjol Denpasar.

Dia mengaku sejak melakukan terapi bekam dirinya mulai merasakan khasiatnya, salah satunya tidak lagi merasakan kesemutan di kedua kaikinya akibat asam urat yang menimpanya. Dia berharap ke depannya semakin banyak pengobatan bekam yang ada di Bali.

“Saya rutin bekam setaip sebulan sekali dan kebetulan di masjid Muhammad ini,” ungkap pria asal Banyuwangi tersebut.

Lihat juga...