Siswa SMA 8 Malang Hadirkan Solusi Bercocok Tanam di Lahan Terbatas

MALANG – Akibat semakin maraknya pembangunan gedung dan pemukiman terutama di kawasan perkotaan, menyebabkan luas lahan pertanian terus berkurang. Masyarakat tidak lagi bisa dengan mudah mendapatkan lahan kosong untuk digunakan sebagai tempat bercocok tanam. 

Berdasarkan fakta tersebut, dua orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Malang berkolaborasi dengan dua orang guru mencoba menawarkan inovasi Portable 3 Teknik Aquaponik (P3TA) sebagai solusi mengatasi permasalahan keterbatasan lahan bercocok tanam di perkotaan. Kedua orang siswa tersebut yakni M. Daffa Dhiya Ulhaqq WP. dan Nova Isra’ Murima serta dua orang guru, Wiedia Carullina Purwanti dan Muzeki.

Daffa menjelaskan bahwa P3TA merupakan media penanaman hidroponik berbasis portable yang menggunakan 3 macam teknik penanaman, yakni Nutrien Film Technique (NFT), Wick System, Floating System. NFT sendiri adalah budidaya tanaman sayuran dengan sistem sirkulasi air bernutrisi. Dimana akar tanaman akan tumbuh pada lapisan nutrisi yang tersirkulasi sehingga tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi, dan oksigen.

Sedangkan Wick System atau biasa disebut sistem sumbu ini hanya membutuhkan sumbu untuk menghubungkan antara larutan nutrisi pada bak penampung dengan akar tanaman melalui pemanfaatkan daya kapilaritas yang terjadi pada sumbu.

“Pada Wick System ini kami tidak menggunakan sumbu, tetapi memanfaatkan kain flanel untuk membawa nutris ke akar,” ucapnya.

Sementara untuk Floating System (rakit apung) sendiri adalah pembibitan tanaman di atas permukaan air nutrisi.

Lebih lanjut Daffa menyampaikan, jika kebanyakan pada sistem hidroponik menggunakan nutrisi dari bahan kimia, sedangkan pada P3TA justru memanfaatkan kotoran ikan sebagai nutrisi tanaman.

“Untuk hama kita juga ada solusi organik yaitu dengan menggunakan tiga siung bawang putih ditambah satu liter air kemudian disemprotkan untuk mengatasi hama ulat dan kutu,” terangnya.

Sementara itu menurut Nova, keunggulam dari P3TA adalah mudah dipindahkan karena tiga macam teknik penanaman tersebut terdapat pada satu rangkaian. Sehingga sangat cocok untuk mengatasi permasalahan keterbatasan lahan bercocok tanam sekaligus mendukung gerakan penghijauan di rumah. Selain itu tanaman juga tidak perlu disiram lagi karena akarnya sudah terus terkena air.

“Dengan menggunakan P3TA pertumbuhan tanaman juga lebih cepat hanya membutuhkan waktu empat minggu sudah bisa dipanen. Cocok untuk tanaman sayur-sayuran seperti sawi maupun kangkung,” ungkapnya.

Untuk kangkung disemaikan dulu di tempat gelap. Setelah berkecambah kemudian ditaruh di floating system dan tidak dipindah. Sedangkan pada tanaman sawi, setelah disemaikan di tempat gelap kemudian ditaruh di netpot dengan wick system.

“Setelah usianya tiga minggu lebih kemudian dipindah ke NFT,” terangnya.

Disebutkan, inovasi P3TA adalah juara tiga dalam ajang Inovasi Teknologi (Inotek) Kota Malang kategori Lingkungan Hidup.

Inovasi Portable 3 Teknik Aquaponik (P3TA). Foto: Agus Nurchaliq

 

 

 

Lihat juga...