Posdaya Beringin Sakti Solok Rangkul Semua Kalangan

SOLOK, SUMBAR — JEJAK PEMBERDAYAAN YAYASAN DAMANDIRI — Dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, berbagai cara diupayakan oleh Posdaya Beringin Sakti, Nagari Perambahan, Kecamatan Bukik Sundi, Kabupaten Solok. Mulai dari aktif dalam kelompok bina keluarga balita hingga pinjaman modal usaha melalui aliran dana Tabur Puja Damandiri.

Manajer Tabur Puja di Kabupaten Solok, Fhajri Arye Gemilang dan Ketua Posdaya Beringin Sakti, Sari Marthalena -Foto: ME. Bijo Dirajo

Ketua Posdaya Beringin Sakti, Sari Marthalena, membeberkan, dari sejak berdiri pada Agustus 2016, Posdaya tersebut aktif di berbagai kegiatan, di antaranya di bidang pendidikan. Dalam setiap bulannya, selalu hadir dalam Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) pada PAUD dan TK yang ada di daerah tersebut.

“Kita terus mengajak orangtua dan balita untuk gemar makan ikan dan juga gerakan mencuci tangan sebelum makan,” sebutnya, saat disambangi tim Cendana News, belum lama ini.

Selain itu, di bidang organisasi, Posdaya selalu hadir dalam setiap kegiatan PKK. Di bidang kesehatan, sekali sebulan aktif di posyandu dan posyandu lansia. “Aktivitas kita di Posyandu lansia, di antaranya pemeriksaan kesehatan, salah satunya pengukuran tensi,” sebut ibu yang tengah hamil tersebut.

Sementara itu, di bagian peningkatan ekonomi masyarakat, meski baru seumur jagung, Posdaya sudah memiliki anggota 106 orang yang tergabung dalam 15 kelompok. Setiap orang mendapatkan aliran pinjaman dari Yayasan Damandiri melalui Koperasi Kencana BKKBN Kabupaten Solok, dengan nilai bervariasi, mulai Rp2 juta hingga Rp3 juta.

“Kebanyakan dari anggota bekerja sebagai petani, pedagang dan ibu rumah tangga yang ingin membantu perekonomian keluarga,” sebutnya.

Ia juga membeberkan, kehadiran Posdaya mampu menutup pintu untuk rentenir yang sudah banyak di daerah lain masuk ke daerah tersebut.

Salah seorang penerima aliran pinjaman Tabur Puja di Posdaya Beringin Sakti, Suherlindawati (46), menyebutkan, dana yang didapatkannya digunakan untuk pembelian bibit cabai dan beternak itik.

“Dana tersebut digunakan untuk membuka ladang, beli bibit dan pupuk. Bahkan, saat ini sudah masuk periode tanam yang kedua,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Rika Aksri (20), seorang ibu rumah tangga yang ikut membantu suaminya beternak. Dari penuturannya, ternak itiknya sudah bertambah banyak, dari sebelumnya hanya 28 ekor menjadi 56 ekor. “Pinjaman awal Rp2 juta yang digunakan untuk pembelian itik petelur,” sebutnya.

Dari peningkatan jumlah ternak tersebut, pemasukan harian pun juga bertambah. Dalam satu hari bisa menghasilkan telur lebih kurang 27 butir, dengan harga dari peternak Rp1.700 per butir.

 

Lihat juga...