Sikka, Barometer Koperasi di NTT
MAUMERE – Provinsi NTT dinobatkan sebagai provinsi koperasi dan kabupaten Sikka menjadi barometernya. Sebab, dari Sikka lahir 6 koperasi primer nasional dan ada sekitar 3 koperasi primer lagi yang sedang menuju level nasional dengan total anggota di Kabupaten Sikka menembus angka 348.000 orang.

Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadaya Utama, yang membawahi 38 koperasi kredit yang ada di Kabupaten Sikka, Flores Timur dan Lembata, Petrus Herlemus, mengatakan, Puskopdit Swadaya Utama memiliki 7 koperasi kredit yang sudah membuka cabang di beberapa wilayah di Provinsi NTT, yakni Kopdit Pintu Air, Obor Mas, Mitan Gita,Suber Huter, Hiro Heling, Tuke Jung dan Ankara.
“Koperasi primer yang sudah membuka cabang di luar NTT, yakni koperasi kredit Pintu Air dan Mitan Gita dan sudah menjadi koperasi primer nasional, di mana di Sikka persaingan sangat ketat, tetapi masih beretika. Sementara di Kabupaten Flores Timur dan Lembata belum terlalu berkembang, sebab ada kecemburuan di sana-sini,” ungkapnya.
Mimpi besar Puskopdit Swadaya Utama, beber Petrus, menjadi 3 besar nasional dan menjadi nomor satu di Provinsi NTT, dan satu Kopdit sedang disiapkan untuk bersaing di Asia. “Kita juga lagi siapakan sistem online dengan ATM bersama dan saat ini juga sedang dipersiapkan, agar koperasi kredit terjun di sektor riil,” urainya.
Menurut Petrus, menjamurnya koperasi harian dan rentenir tidak menjadi anacaman bagi koperasi kredit, sebab pihaknya memiliki 3 pilar, yakni swadaya, mengandalkan kemampuan anggota dan bila tidak mampu baru koperasi yang membantu. Pilar kedua terletak pada solidaritas, koperasi satu yang susah yang lain bantu, anggota satu yang susah yang lainnya harus bantu serta pilar ketiganya pendidikan, di mana koperasi berkembang maju, maka harus dimulai dengan pendidikan.
“Koperasi kredit di Sikka ada 41 kopdit dan di Sikka ada 237 ribu anggota dan terus bertumbuh, sehingga sangat membutuhkan peran dari berbagai pegiat koperasi dan juga pemerintah mendukung gerakan koperasi,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan Yohanes Edelbertus Dare. Dikatakan Edel, sapaannya, pihaknya pun mencoba masuk ke pasar dengan produk seperti yang diterapkan koperasi harian dan rentenir yang memberikan pinjaman kepada masyarakat tanpa meminjam, di mana dibebankan bungan 20 persen.
“Kami menawarkan pinjaman yang sama, tetapi dengan bunga yang hanya 6 persen, dan banyak masyarakat dan pedagang di Pasar Alok yang berpindah meminjam di kami,” ungkapnya.
Namun demikian, tegas Edel, cara ini hanya dijadikan sebagai pancingan saja, di mana setelah ada keterikatan, maka nasabah tersebut akan diberikan pemahaman dan digiring untuk menjadi anggota koperasi kredit. “Cara ini juga membantu, di mana banyak yang dulunya hanya tahu meminjam kini sudah menjadi anggota kami, bahkan para rentenir pun mulai sedikit demi sedikit mengubah pola pikir dan beralih menjadi anggota kami dan menekuni usaha lain,” pungkasnya.