Pembakaran Jerami Dikeluhkan Pengendara Jalan Lintas Sumatera

SELASA, 13 JUNI 2017

LAMPUNG — Aktivitas pembakaran sisa hasil panen berupa jerami padi milik petani di wilayah Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, mengganggu aktivitas pengendara kendaraan roda dua dan roda empat. 

Rajiman dan warga lain yang masih memanen padi di area persawahan Kecamatan Penengahan.

Menurut Doni (34), salah satu pengendara kendaraan jurusan Bandarlampung tujuan Bakauheni saat melintas di sekitar areal persawahan Kecamatan Penengahan, ia menyebut, kabut pekat sempat menghalangi pandangan akibat pembakaran jerami yang dilakukan oleh petani setempat. Selain mengganggu pemandangan dengan kondisi musim panas yang menyengat akibat pembakaran jerami tersebut mengakibatkan gangguan pandangan dan pernapasan. Ia berharap, aktivitas pembakaran bisa dilakukan pada jam-jam tertentu sehingga tidak mengganggu pengendara sementara saat jam-jam sore menjadi aktivitas sejumlah masyarakat pulang kerja.

Selain mengganggu pernapasan sejumlah pengendara terpaksa memacu kendaraanya dengan kecepatan terbatas akibat jarak pandang menghindari kecelakaan lalu lintas. Aktivitas pembakaran selama hampir satu jam dengan area lokasi di persawahan yang luas bahkan mengakibatkan sejumlah wilayah terlihat gelap ditambah dengan kondisi awan pekat yang sempat melanda wilayah Kecamatan Penengahan dampak dari pembakaran tebon jagung akibat aktivitas “perun” atau membersihkan batang jagung sisa panen dengan cara membakar.

“Kita tidak bisa melarang para petani membakar jerami serta tebon jagung tetapi alangkah baiknya mempergunakan cara lain untuk proses pembersihan lahan karena berimbas terganggunya aktivitas warga lain,” terang Doni, warga Kecamatan Natar yang hendak menuju ke Bandarlampung dari Pelabuhan Bakauheni Lampung, saat ditemui Cendana News, Selasa (13/6/2017).

Sementara itu, sebagian petani di wilayah Kecamatan Penengahan melakukan aktivitas membersihkan sisa panen tersebut untuk memudahkan proses pembersihan lahan. Faktor lain menurut Rajiman, salah satu petani pemilik satu hektar sawah di Dusun Banyumas dengan proses pembakaran jerami bisa menjadi pupuk alami dan bisa dipergunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Faktor lain yang diakui oleh Rajiman terutama pada masa panen kali ini sebagian lahan sawah milik petani diserang hama burung dan juga hama tikus. Proses pembakaran jerami tersebut sengaja dibakar di sejumlah lokasi yang dipergunakan untuk bersarang tikus agar tidak berkembang biak pada masa tanam selanjutnya.

Ia juga menyebut pernah mendengar adanya imbauan larangan membakar jerami atau tebon jagung pasca panen namun demi efisiensi serta mempermudah pembersihan lahan aktivitas membakar jerami dan tebon jagung masih dilakukan hingga kini. Selain itu ia menyebut sebagian petani memanfaatkan jerami untuk pakan ternak justru memanfaatkan jerami yang masih segar. Sementara jerami yang sudah kering jarang dimanfaatkan oleh sebagian petani yang juga memiliki ternak sapi dan kerbau.

Pembakaran jerami yang mengganggu aktivitas jalanan.

“Kami memang mengetahui manfaat jerami untuk pakan ternak tetapi dengan kondisi masa panen yang masih berlangsung kami memilih mencari pakan segar yang masih hijau, jerami yang sudah kering umumnya dibakar,” ungkap Rajiman.

Pantauan Cendana News sebagian petani yang sudah selesai melakukan masa panen dan sebagian jerami sudah kering melakukan proses pembakaran jerami yang mengakibatkan kabut pekat dan mengganggu aktivitas pengendara Jalan lintas Sumatera. Beberapa petani yang masih memiliki padi dalam proses panen sebagian masih dalam proses perontokan secara manual menggunakan alat perontok padi (gepyokan) dengan sebagian jerami dipergunakan sebagai pakan ternak kerbau dan pakan sapi. Aktivitas membakar jerami yang dilakukan oleh para petani tersebut bahkan dibantu oleh anak-anak mereka yang ikut asyik membentu membersihkan jerami dengan cara dibakar. [Henk Widi/ Satmoko/ Foto: Henk Widi]

Source: CendanaNews

Lihat juga...