MINGGU, 2 APRIL 2017
KEEROM — Pada 1993, mayoritas penduduk Kampung Wonorejo berasal dari suku dari luar Irian Jaya (Papua). Menurut Mateus, penduduk dari lima daerah di luar Irian Jaya yang dihimpun ke dalam kampung itu sesuai dengan isi dari Pancasila, sesuai ideologi Dasar Negara Indonesia dan dari dasar itulah semua penduduk di kampung ini murni NKRI.
Tak ada pengkotak-kotakkan golongan maupun kelompok minoritas maupun mayoritas di dalam Kampung Wonorejo, yang merupakan kembaran nama dari Kampung Wonorejo, Distrik Rungkut, Kota Surabaya, Jawa Timur, ini. “Kata-kata pendatang dan orang Papua, kami tak gunakan di Kampung Wonorejo, ini. Yang kami gunakan di sini hanya saudara, karena kita sama-sama orang Indonesia. Karena kalau kita gunakan kata pendatang, berarti ada pemisahan,” ujar Mateus Wey, yang diangkat sebagai Kepala Kampung Wonorejo sejak 2013, lalu.
Sesuai isi dari lima poin yang ada dalam Pancasila, tetap ditegakkan dan dipegang teguh oleh masyarakat di kampung tersebut. Walaupun, Anda datang ke kampung ini dan asing bagi penduduk setempat, mereka tetap menerima Anda sebagai saudara yang datang bersilaturahmi. “Kita punya saudara-saudara yang datang ke sini untuk bersama-sama bertukar pikiran. Saudara membawa pendapat positif dari luar dengan tujuan membangun kampung, dan bisa sama dengan daerah lainnya yang sudah maju,” ujarnya.
Sementara, Komandan Satgas Pamtas RI_PNG Yonif Mekanis 516/CY, Letkol Inf Lukman Hakim, saat ditemui media ini mengatakan, Kampung Wonorejo adalah Indonesia kecil. Menurutnya, masyarakat di dalamnya dari berbagai macam suku seperti Batak, Sunda, Makassar, Jawa NTT, NTB, Maluku dan Papua. “Toleransi agama antar warga cukup bagus. Pertama kali datang masih suasana lebaran, ada acara Halal Bilhalal warga Kampung, semua hadir dari agama apa pun,” kata Lukman Hakim, Minggu (2/4/2017).

Sebelum akhir masa tugas satuannya di Papua, Lukman pun berterima kasih kepada masyarakat Kampung Wonorejo, atas kerjasamanya selama mereka menjalani penugasan selama kurang lebih 9 bulan lamanya. Lukman dan satuannya disambut warga sungguh luar biasa, seperti tinggal di Kampung sendiri, Surabaya. “Kesadaran masyarakat cukup tinggi untuk senantiasa menjaga keamanan lingkungan, kerukunan hidup antar masyarakat, walaupun berbeda suku dan agama dan semangat gotong-royong tetap lestari di Kampung Wonorejo,” tuturnya.
Terdapat beberapa paguyuban di kampung tersebut seperti Paguyuban Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi, NTT, NTB, Maluku dibagi dua bagian, Papua yang dibagi tiap kabupaten juga Payububan Papua Barat, kesemuanya saling merangkul guna menyukseskan program Pemerintah Daerah.
Fasilitas kesehatan sendiri satu Puskesmas, untuk pendidikan terdapat 3 sekolah, yakni PAUD SD dan SMP, sedangkan tingkat SMA terdapat di kampung lainnya, dan diharapkan Kampung Wonorejo dapat dijadikan contoh bagi kampung-kampung lain di Tanah Papua.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta