Pelita Prihatin dengan Maraknya Pemboikotan Acara Umat Beragama

SELASA, 4 APRIL 2017

SEMARANG — Maraknya pemboikotan acara umat beragama menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi kaum muda lintas agama di Semarang. Tujuan beragama yang seharusnya dipakai untuk memperkuat persatuan dan kesatuan ternyata dimaknai golongan tertentu untuk menunjukkan kekuatan kelompoknya. 

Koordinator Pelita, Setyawan Budy

“Sebenarnya kerukunan umat beragama di kota Semarang sudah kondusif, tetapi akhir-akhir ini beberapa ormas intoleran mulai muncul untuk menolak berbagai kegiatan umat beragama,” sebut Koordinator Pelita, Setyawan Budi saat ditemui Cendana News, Selasa (4/4/2017).

Untuk kembali mempertegas bahwa Semarang kota antar umat beragama maka Pelita mengadakan Srawung Kaum Muda Lintas Agama pada bulan Maret 2017 yang melibatkan 2.314 peserta dari komunitas Lintas Agama, beberapa tokoh yang menghadiri acara tersebut adalah Andi Tjiok (Konghucu), Pandita Aggadhammo Warto (Budha), I Nengah Wirta Darmayana (Hindu), KH Ubaidillah Achmad (Islam), Romo Aloysius Budi (Katholik), Pendeta Tjahjadi Nugroho (Protestan) dan Sumarwanto (tokoh penghayat)

Untuk memperkuat kerukunan umat beragama, Pelita juga sering mengadakan dialog bulanan yang diadakan secara bergilir di tempat umat beragama yang ada di Semarang. Selaku koordinator Pelita dirinya berharap agar kerukunan umat Beragama tetap terjaga sehingga di masa depan tidak ada lagi penolakan terhadap acara umat beragama

Senada dengan Setyawan, Yunanto Adi Setyawan dari Gus Durian juga menyoroti mulai banyaknya kelompok radikal yang selalu mengusik ketenteraman kehidupan beragama di kota yang terkenal dengan ikon Lawang Sewu tersebut. Padahal sebelumnya Semarang adalah Kota yang kondusif untuk menjalankan kegiatan beragama. Dirinya menduga bahwa kelompok-kelompok tersebut berasal dari luar Semarang yang melakukan ‘ekspansi’ untuk mengganggu kedamaian.

“Mereka (kelompok radikal) walaupun jumlahnya kecil tetapi suaranya lantang sehingga bisa mengganggu kota Semarang,” ujar Yunanto

Untuk bisa mengembalikan Semarang menjadi kota yang kondusif, Pelita secara rutin berkomunikasi dengan jajaran Forkompinda dan Kepolisian agar bisa secara cepat mendeteksi permasalahan yang ada, walaupun pada dasarnya sifat Pelita hanya mendukung tetapi jika ada permasalahan yang urgent dirinya tidak segan-segan untuk turun langsung

Ke depannya Yunantyo berharap untuk meperkuat keberagaman beragama di Kota Semarang masyarakat jangan mudah menyesatkan aliran kepercayaan orang lain selama aliran tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada, karena bagi dirinya perbedaan adalah anugerah yang harus disyukuri, bukan untuk diperdebatkan.

Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

Lihat juga...