SELASA, 11 APRIL 2017
LAMPUNG — Kondisi cuaca perairan wilayah pantai Barat Lampung dengan kecepatan angin 3-20 knot yang berpotensi kencang membuat nelayan enggan melaut dan terpaksa meminggirkan bagan apung dan bagan mini. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kerusakan.
![]() |
| Perahu nelayan yang ditambatkan akibat pengaruh cuaca |
“Berdasarkan prakiraan cuaca umum yang dipantaunya dari hari ke hari melalui internet dan juga informasi dari pihak syahbandar dermaga Bom Kalianda, kecepatan angin di wilayah pesisir Barat masih cukup kencang,” sebut salah satu nelayan pesisir Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, Jaka Utama (34) kepada Cendana News, Selasa (11/4/2017).
Ia menyebutkan, kondisi cuaca diprediksi belum akan membaik dalam beberapa hari ke depan. Mengisi waktu luang, nelayan lebih memilih untuk istirahat sekaligus memperbaiki kerusakan bagan.
“Cuaca buruk ini sebetulnya waktu untuk istirahat baik bagi nelayan juga bagi perahu bagan mini karena bagan mini yang kita gunakan baru rutin dilakukan perbaikan menyeluruh sebulan sekali, ini sekalian istirahat sekaligus perbaikan di beberapa bagian,”terang Jaka.
![]() |
| Jaka melakukan perbaikan pada bagian lambung kapal bagan mini dengan mencongkel kerang yang menempel |
Jaka Utama yang memiliki satu unit bagan mini mengungkapkan saat ini bagan mini yang dimilikinya sempat mengalami kerusakan pada bagian katir dan beberapa bagian badan kapal. Selama tidak melaut, ia melakukan perbaikan pada beberapa bagian penting perahu yang dikenal dengan bagan mini miliknya.
“Butuh waktu sekitar sepekan lagi untuk perbaikan bagan mini ini mulai dari proses perbaikan katir, mengecat bagian kapal serta melakukan proses penambalan dengan menggunakan dempul serta menghilangkan kerang kerang yang menempel pada bagian perahu,” terang Jaka .
Selain Jaka sebagai pemilik bagan mini, pemilik bagan apung di wilayah tersebut Umar (35) juga menepikan bagan sejak empat hari terakhir. Cuaca angin kencang dan gelombang tinggi di wilayah perairan setempat masih membuat para nelayan enggan melaut menghindari resiko keselamatan selama melaut khususnya para nelayan nelayan tradisional pemilik kapal ukuran kecil.
![]() |
| Umar menunjukkan bagan apung yang akan diperbaiki menunggu bahan bahan untuk perbaikan |
Umar yang memiliki satu unit bagan apung berusaha menghindari kerusakan lebih parah. Bagan yang berukuran sekitar 8×8 meter tersebut ditambatkan di tepi dermaga untuk dilakukan perbaikan pada bagian pelampung dan jaring.
“Kalau tidak dipinggirkan takutnya malah rusak parah sebab pernah ada nelayan pemilik bagan yang tak sempat meminggirkan bagan apung miliknya rusak terbawa arus dan menabrak pulau meski beruntung tidak jauh terbawa hingga ke kabupaten lain,” ungkap Umar.
Dampak cuaca ekstrim di wilayah perairan tersebut diakuinya membuat sejumlah nelayan memilih melakukan aktifitas di darat karena sebagian besar perahu ditambatkan di dermaga Bom Kalianda. Kesempatan tersebut sebagian sengaja digunakan untuk perbaikan bagian bagian perahu, bagan mini dan bagan apung sehingga saat kondisi cuaca membaik nelayan dapat melakukan aktifitas melaut.
Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi
Source: CendanaNews


