SOLO — Berada di deretan anak Gunung Lawu sisi selatan, Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, menjadikan desa ini kaya akan keindahan hayati. Tak hanya udara yang sejuk, pemandangan alam nan indah, sungai-sungai yang mengalir jernih menjadi pesona bagi siapa yang ingin menikmati suasana di ketinggian 1500 MDPL.
![]() |
| Jembatan Cinta rumah pohon Banyu Adem. |
Potensi alam inilah yang rupanya ditangkap warga Desa Wonorejo sebagai daya tarik tersendiri untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah tanpa harus melancong jauh ke luar daerah maupun ke kota-kota besar seperti Ibu Kota Jakarta. Berawal dari gagasan dan ide yang muncul dari warga, kini desa ini memiliki 2 lokasi objek wisata rumah pohon. “Satu diberi nama rumah pohon tugulasi dan yang satu adalah banyu adem. Semuanya mempunyai arti sendiri-sendiri,” ucap Sudrajat, Kepala Desa Wonorejo, mengawali perbincangannya dengan Cendana News, Senin (27/2/2017).
Diungkapkan Sudrajat, upaya warga Desa Wonorejo yang mencoba mengangkat keindahan alam hayati sebagai daya tarik wisata sebenarnya sudah lama, namun baru terealisir pada awal Februari 2017 ini. Kembali kepada nama rumah pohon, kata dia, tugulasi kerena di lokasi rumah pohon yang ada di Dusun Puntuksari terdapat sebuah tugu peninggalan pada zaman penjajahan kolonial Belanda sebagai pembatas wilayah. “Sedangkan rumah pohon banyu adem (air dingin), karena di lokasi ini ada sumber air yang alami dan dingin,” paparnya.
![]() |
| Jembatan Cinta Banyu Anyep. |
Dua objek wisata rumah pohon yang lengkap dengan gazebo, gardu pandang, dan area bermain ini, dibangun secara swadaya masyarakat. Bahkan, pengelolaan retribusi rumah pohon diserahkan kepada karang taruna masing-masing dusun sebagai salah satu pemberdayaan masyarakat sekaligus sumber pendapatan warga. “Peran serta masyarakat saat ini kita bangun. Tujuannya biar anak muda untuk bekerja tidak harus ke kota. Kita maksimalkan potensi yang ada di desa,” tegas dia.
Meski tergolong baru, antusias masyarakat terutama kalangan remaja dan anak muda cukup besar. Terbukti, setiap akhir pekan objek wisata rumah pohon selalu ramai dikunjungi. Dalam sehari, kunjungan pengunjung setiap akhir pekan mampu mencapai 300-500 orang setiap harinya. Diungkapkan Sudrajat, dari dua rumah pohon itu, saat ini sejumlah warga mengaku banyak mendapatkan berkah dari mendirikan warung-warung kecil yang menyajikan minuman dan makanan ringan.
“Ini yang tak disangka, ternyata dampaknya bagus untuk warga. Yang buka warung jadi ramai dan rejekinya bertambah. Padahal sebelum ada rumah pohon tidak ada warung satu pun, kini sudah ada belasan warung. Artinya belasan warga juga yang meraup sejeki,” jelas pria 46 tahun tersebut.
Untuk bisa menikmati pemandangan pegununan lawu sisi selatan maupun selfi di rumah pohon, pengunjung tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Cukup membayar tiket masuk Rp 2000 dan jasa parkir Rp 2000, pengunjung dapat menikmati objek wisata pemandangan alam sepuasnya. Guna mengangkat Wonorejo sebagai desa wisata, pria yang sudah menjabat sebagai Kepala Desa dua periode ini mengaku sudah mempunyai sejumlah rencana yang sudah masuk dalam perencanaan desa.
![]() |
| Sudrajat, Kepala Desa Wonorejo. |
Di antaranya, dengan mengoptimalkan aliran Sungai Walikan yang ada di wilayahnya dengan membuka wisata arum jeram mini, membangun Taman Watu Gajah sebagai petilasan yang dipercaya warga sebagai salah satu tempat yang digunakan Pangeran Samber Nyawa untuk bertapa, serta membangun water boom dengan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Konsep kita nanti adalah membuat paket wisata, yakni ada rumah pohon, bermain air di sungai yang diberi nama keceh ndeso, serta wisata religi di petilasan Watu Gajah, karena batunya sangat besar sekali dan di dalamnya ada gua yang dulu kata sesepuh terdahulu digunakan untuk bersemedi (bertapa) Pangeran Samber Nyawa sebelum ke Giribangun, Matesih maupun ke Lawu,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Wonorejo juga telah menyiapkan rute untuk pecinta trabas alam lengkap dengan persewaan motor trail. Dengan sejumlah potensi alam yang dimiliki, Desa Wonorejo berharap mampu mandiri menjadi desa wisata. “Harapannya adalah masyarakat bisa sejahtera tanpa harus pergi jauh ke luar kota. Ke depan, petani tidak perlu menjual hasil panennya jauh-jauh ke kota. Cukup di depan rumah atau di kampung, pembeli yang datang dengan sendirinya,” tambah Sudrajat.
![]() |
| Rumah pohon di Wonorejo sebagai upaya angkat potensi lokal. |
Sementara itu, sebagian besar pengunjung mengaku, mengetahui objek wisata rumah pohon Desa Wonorejo, dari media sosial. Namun tak sedikit pula yang mengetahui lokasi objek wisata yang mengangkat potensi alam ini mendengar dari telinga ke telinga. “Saya tahunya dari media sosial, banyak yang mengunggah foto di rumah pohon. Karena penasaran, akhirnya datang ke sini,” kata Tika, salah satu pengunjung.
Para pengunjung juga mengaku puas dengan bisa menikmati liburan maupun akhir pekan dengan berkunjung di rumah pohon. Terlebih, objek wisata yang tergolong murah meriah itu tengah tren di kalangan anak muda dan remaja. “Pemandangannya bagus, udaranya juga sejuk. Cukup puaslah untuk bisa wisata di rumah pohon,” ungkap Ika Poernama pengunjung yang lain kepada Cendana News.
Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid


