MINGGU, 26 FEBRUARI 2017
LAMPUNG — Akses utama jalan penghubung antara wilayah Bunut dengan wilayah Kuala Jaya Desa Bandaragung Kecamatan Sragi Lampung Selatan yang terendam banjir berimbas pada pasokan dan distribusi barang.
![]() |
| Akses utama warga terputus akibat banjir |
Nur Hayati (34), salah satu pedagang barang barang kebutuhan pokok di Dusun Kuala Jaya.mengatakan, akses utama jalan hingga hari ini belum bisa dilewati. Bahkan lima hari terakhir warga terpaksa menggunakan jalur darurat di tanggul penangkis yang digunakan sebagai jalan alternatif.
“Tapi jalur tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dalam kondisi hujan dan berlumpur terutama kendaraan distribusi elpiji serta pedagang lain,”sebutnya kepada Cendana News, Minggu (26/2/2016).
![]() |
| Pedagang sayuran di pasar tradisional Pasuruan |
Nur Hayati menyebutkan, pada kondisi normal, khusus untuk pedagang sayur keliling menggunakan kendaraan roda dua setiap hari ada sekitar 5 hingga 6 pedagang yang berjualan di wilayah Dusun Bunut, Dusun Umbul Besar hingga ke Dusun Kuala Jaya. Namun akibat banjir, sebagian pedagang hanya terhenti di Dusun Bunut akibat licin dan kondisi berlumpur. Dampaknya harga sejumlah komoditas pokok di wilayah menjadi lebih mahal dengan susahnya distribusi barang.
“Pedagang, distributor yang akan menuju ke dusun kami tidak bisa masuk sehingga akhirnya pemilik warung di sini belanja dalam jumlah banyak ke pasar untuk dijual kembali dengan menggunakan kendaraan roda dua meski aksesnya sulit dilalui,”ungkap Nur Hayati.
Khusus untuk sayuran, kenaikan hanya terjadi pada beberapa jenis diantaranya cabai merah besar yang biasanya dijual seharga Rp30.000 perkilogram dari semula hanya Rp35.000 perkilogram, selain itu beberapa jenis sayuran lain mengalami kenaikan dari berkisar Rp500 hingga Rp1.000.
![]() |
| Stok elpiji di salah satu warung di Dusun Umbul Besar Desa Bandaragung yang terimbas banjir |
Nurhayati mengakui faktor sulitnya distribusi yang biasanya kendaraan roda empat bisa langsung menuju ke wilayah Kuala Jaya dan sekitarnya membuat harga menjadi lebih tinggi termasuk harga gas elpiji ukuran 3 kilogram yang semula hanya seharga Rp23.000 kini menjadi Rp25.000 per kilogram di Dusun Umbul besar.
Harga yang naik khusus untuk kebutuhan tabung gas elpiji tersebut diakui oleh Aminah (45) salah satu korban banjir cukup memberatkannya. Ia berharap meski telah ada bantuan kebutuhan pokok warga juga mendapat pasokan gas elpiji yang dijual dengan harga standar terutama bencana banjir yang belum reda akibat pengaruh pasang air laut ditambah luapan sungai Way Sekampung akibat intensitas hujan yang masih cukup tinggi.
![]() |
| Mengungsikan kendaraan roda dua akibat banjir |
Bantuan dari berbagai pihak untuk korban banjir pun terus mengalir berupa obat obatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan. Bantuan makanan pokok dari Dinas Sosial, bantuan peralatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan.
Menurut Camat Kecamatan Ketapang, Suwardi, bantuan juga mengalir dari beberapa anggota DPR Provinsi Lampung diantaranya Antoni Imam berupa sekitar 20 kardus mie instan, bantuan dari anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan Sadide serta bantuan dari pihak lain yang langsung disalurkan ke masyarakat.
Meski demikian akses yang masih sulit dan merendam jalan di wilayah tersebut membuat warga masih bertahan di tanggul dengan mendirikan tenda. Kendaraan roda dua yang terjebak di perumahan warga terpaksa diungsikan secara bergotong royong diangkat dan diungsikan ke tempat yang aman.
Warga yang mulai mengeluhkan sakit pasca banjir diantaranya diare, gatal gatal pun sudah mendapat penanganan dari Dinas Kesehatan dengan adanya posko pelayanan di puskesmas pembantu (Pustu) Kecamatan Sragi termasuk posko darurat yang didirikan di dekat tenda milik BPBD Lampung Selatan.
Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi


