JUMAT, 20 JANUARI 2017
MAUMERE — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka perlu mengungkap lebih banyak kasus penyakit HIV dan AIDS yang terjadi di beberapa daerah di pedalaman Kabupaten Sikka. Masyarakatnya sulit mendapat akses pelayanan kesehatan.
| Pelatihan bagi fasilitator HIV dan AIDS oleh KPA Sikka. |
Selama ini, beberapa kecamatan di Kabupaten Sikka yang berada jauh dari Kota Maumere, penemuan penderita HIV dan AIDS masih sangat kecil, padahal jika dilakukan pemeriksaan dan diungkapkan lebih awal, akan banyak ditemukan masyarakat yang tertular penyakit ini.
Demikian disampaikan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka, Yohanes Siga, saat ditemui Cendana News Jumat (20/1/2017) di kantornya.
Dicontohkan Yan, sapannya, Kecamatan Mapitara yang selama ini bertahan dengan satu kasus HIV dan AIDS, tahun 2016 meningkat menjadi 3 kasus. Dengan demikian, berarti kalau diintervensi kasus ini lebih jauh, maka akan mengungkap gunung es penyakit ini dan akan semakin banyak yang terungkap.
“Kami akan memperluas jangkauan agar wilayah pedalaman lebih difokuskan, sementara untuk masyarakat di Kota Maumere kesadaran untuk memeriksakan diri sudah semakin besar sehingga banyak kasus terungkap,” terangnya.
Dengan demikian, lanjut Yan, tak heran 2 wilayah kecamatan di Kota Maumere, yakni Alok dan Alok Timur selalu berada di peringkat pertama dan kedua dari total jumlah orang yang terjangkit penyakit HIV dan AIDS.
Sementara itu, bebernya, bila dilihat menurut jenis pekerjaan, maka ibu rumah tangga masih menempati peringkat pertama yang terjangkit penyakit ini. KPA Sikka pun sedang mencoba membuat sebuah imbauan yang berisi 10 pertanyaan yang menyebabkan seseorang mudah terjangkit virus HIV dan AIDS.
“Perda di Kabupaten Sikka untuk menanggulangi penyakit ini memang sudah ada, tapi semua pihak belum banyak terlibat. Butuh kerja nyata mencegah dan memberantas penyakit ini,” sebutnya.
Misalnya, tokoh agama ungkap Yan, perlu dikeluarkannya fatwa di agama Islam ataukah surat gembala untuk agama Katolik. Seperti imbauan agar semua calon pasangan suami istri sebelum menikah harus memeriksakan kesehatan terlebih dahulu di rumah sakit yang memiliki peralatan lengkap untuk pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Sehingga dengan pemeriksaan kesehatan dan ditemukan adanya penyakit, tuturnya, maka bisa lebih awal dilakukan pengobatan. Selain itu dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini, sudah bisa mengetahui sekian banyak orang yang memiliki golongan darah dan tahu bahwa di masyarakat ada bank darah.
“Jadi, ketika ada kebutuhan darah, kita bisa ketahui dan mereka yang ada hubungan keluarga dengan pasien bisa mendonorkan darahnya. Sebab, selama sebulan, rumah sakit di Maumere membutuhkan minimal 500 kantong darah,” terangnya.
Dengan pemeriksaan kesehatan sambil melakukan donor darah, sambung Yan, pemerintah daerah juga bisa lebih awal mengetahui 7 sampai 10 jenis penyakit yang mungkin diderita warganya dan lebih awal dilakukan pengobatan.
“Kita harapkan agar warga masyarakat lebih sehat sehingga ini langkah yang harus kita lakukan sejak awal,” tegasnya.
Semua pihak, kata Yan, membicarakan mencegah penyakit HIV dan AIDS sejak dari hulu tapi berbagai cara untuk mencegahnya tidak dilakukan secara konsisten dan menyeluruh oleh semua pihak. Untuk itu, dibutuhkan komitmen dan langkah konkrit termasuk di antaranya melakukan sunat atau sirkumsisi, baik saat masih kecil maupun sudah dewasa kepada semua laki-laki.
Dibeberkannya, saat ada pertemuan nasional membicarakan penanganan penyakit ini, dalam persentasenya Pemda Papua memberikan gambaran bahwa daerah yang mayoritas masyarakatnya mengadopsi sirkumsisi atau sunat prevelensi penyakinya sangat rendah.
![]() |
| Sekretaris KPA Sikka, Yohanes Siga. |
“Ini dari aspek kesehatan dan bagaimana caranya kita menyadarkan masyarakat agar bisa mengadopsi sirkumsisi yang menjadi salah satu cara pencegahan dini penyakit HIV dan AIDS,” pungkasnya.
Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
